Senin, 30 Juli 2012

NasDem Rekrut 500 Tokoh

NasDem Rekrut 500 Tokoh
JOGJA - Partai NasDem siap menyongsong Pemilu 2014. Bagi partai ini, agenda pemilu merupakan bagian dari implementasi dari komitmen melakukan restorasi atau perubahan.
Dengan demikian, dalam pemilu nanti Partai NasDem memiliki target menang dalam pemilihan legislatif. Strategi pemenangan itu salah satunya dengan melakukan rekruitmen tokoh yang memiliki kapasitas, integritas, popularitas dan ideologi yang sama dengan Partai NasDem.
”Mekanisme perekrutan tentu saja tidak sekadar tunjuk orang atau membajak partai lain seperti yang ramai diasumsikan,” ujar Ketua DPW Partai NasDem Provinsi DIJ Subardi kemarin (29/7).
Menurut Subardi, persyaratan perekrutan bukan hanya harus memiliki kekuatan politik, finansial, popularitas, pengalaman dan jaringan. Namun juga komitmen sesuai integritas dan ideologi partai. ”Kesanggupan menjadi agen perubahan bagi restorasi Indonesia menjadi persyaratan utama,” tandas lelaki yang pernah menjadi caleg DPR RI dari Partai Golkar DIJ ini.
Dikatakan, saat ini DPW Partai NasDem DIJ telah bergerak melakukan pendekatan personal dengan banyak tokoh di DIJ untuk diajak bergabung dan menjadi calon legislatif. “Sekarang telah terinventarisasi 500 tokoh di DIJ. Tiap kabupaten dan kota ada 100 tokoh yang siap berkompetisi dalam Pemilu 2014,” ungkap mantan Ketua Badan Liga Amatir (BLA) PSSI ini.
Menanggapi polemik perekrutan anggota legislatif yang masih duduk di DPR RI, DPRD kabupaten, kota, dan provinsi dari partai politik lain, Subardi menegaskan, partainya akan menerima para tokoh anggota legislatif tersebut. Syaratnya, mereka sanggup melakukan perubahan di negeri ini dan tidak sekadar menjadi kutu loncat politik. Yakni, ingin pindah tempat hanya sekadar mengejar kekuasaan dan uang belaka.
Bagi sejumlah tokoh yang berharap masuk Partai NasDem karena tergiur modal awal pemenangan Rp 5 miliar sampai Rp10 miliar dari partai untuk calegnya tanpa memiliki komitmen perubahan, Subardi mengingatkan jangan harap bisa bergabung dengan Partai NasDem.
”Bagi kami, modal awal yang diberikan itu bukan hanya iming-iming menarik simpati kader partai lain. Tapi kami sadar untuk melakukan perubahan dibutuhkan ongkos yang tidak sedikit,” ujarnya.
Itu artinya, lanjut dia, yang diberikan partai kepada calegnya adalah ongkos partai melakukan perubahan di negeri ini. Karena itu, Subardi kembali menegaskan partainya tak ingin kader kutu loncat. NasDem hanya ingin bekerja sama dengan orang yang betul-betul ingin menjadi agen perubahan berbasis ideologi partai.
Partainya bakal menerima dengan lapang dada anggota legislatif yang masih duduk di parlemen dan dari partai manapun untuk bergabung, sesuai dengan persyaratan partai.
”Modal Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar untuk setiap caleg bukan sekadar iming-iming, melainkan ongkos partai melakukan restorasi Indonesia,” papar ayah tiga anak ini. (bhn/kus/amd)

Minggu, 29 Juli 2012

Partai NasDem Usul Presidential Threshold Dihapus

   Sunday, 29 July 2012    
  JAKARTA– Partai NasDem menilai presidential threshold (PT) atau syarat dukungan untuk mengusung calon presiden (capres) adalah salah satu sumber terjadinya politik dagang sapi dalam proses memilih pemimpin bangsa.

Karena itu, Nas- Dem mengusulkan agar ketentuan tersebut dihapus dalam pembahasan revisi UU Pilpres. “Syarat PT baik 15%,20% atau berapa pun besarnya adalah kesempatan bagi partai politik (parpol) melakukan jual beli dukungan.Makanya kami mengusulkan sistem threshold dalam pengusungan capres ini dihapus saja,” ujar Ketua Bappilu DPP Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan kepada SINDO kemarin.

Sebagai jalan keluar,Ferry mengungkapkan bahwa Nas- Dem punya usul agar syarat pengusungan capres dibuat simpel, yakni dengan memberikan hak mengusung hanya bagi parpolyangmasuktigabesardalam perolehan suara sah pemilu. “Artinya hanya partai yang masuk tiga besar yang bisa mengusung capres. Partai di bawahnya tak boleh mengusung, tetapi bisa memberikan dukungan kepada figur yang diusung tiga partai atas.Dengan demikian tak akan ada lagi jual beli perahu yang marak dengan politik dagang sapi,”ungkapnya.

 Menurut Ferry, dengan penyederhanaan sistem pengusungan capres tersebut, penguatan sistem pemerintahan presidensial yang dianut Indonesia akan lebih kokoh. Sebab dukungan terhadap pemerintah datang dari partai yang kuat dan sederhana.Tidak seperti sekarang, yaitu pemerintah harus menggandeng banyak parpol yang justru membuat kinerjanya berat. Ferry menjelaskan, sistem PT atau persentase perolehan suara untuk mengusung capres yang diterapkan saat ini jelasjelas menjadi ajang jual beli politik.

Tak hanya dalam pilpres, tetapi hal ini juga sangat kentara dalam pilkada.Banyak figur yang harus mengeluarkan uang besar untuk mendapat perahu dukungan mencalonkan diri sehingga budaya politik uang sangat sulit diberantas. “Makanya, jika usulan NasDem ini bisa diakomodasi, kita berharap dalam pilkada juga diterapkan. Cukup partai tiga besar yang bisa mengusung bupati,wali kota maupun gubernur,”terangnya.

Menanggapi usulan ini,Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto mengatakan,aturan hanya partai tiga besar yang berhak mengusung capres tentunya terlalu membatasi peluang munculnya figur lain. Karena itu, PAN berpendapat bahwa syarat persentase perolehan suara perlu dipertahankan, bahkan bila perlu diturunkan dari 20% menjadi 15%.

“Menurut PAN, persentase syarat mengusung capres tetap harus ada keseimbangan. Dengan syarat 20% ke atas terlalu membatasi,”ujarnya. Lebih jauh Bima mengatakan bahwa PT yang seimbang ini dibutuhkan untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial. Sebab pemerintahan akan kokoh dengan dukungan partai yang solid terkoneksi. ● mohammad sahlan
 
 

Ruhut: Banyak Caleg Habiskan Lebih dari Rp 10 M Gagal Masuk DPR

 
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
 Jakarta Anggota Komisi III DPR dari FPD Ruhut Sitompul merespon rencana Partai NasDem menggaet 37 anggota DPR RI dari berbagai parpol. Ruhut mengingatkan bahwa modal untuk menjadi anggota DPR bukan semata-mata uang.

“Bukan berarti dengan modal Rp 5-10 miliar jadi. Kemarin itu banyak yang habiskan uang di atas Rp 10 miliar gagal akhirnya pada tertawa-tertawa sendiri di jalan. Jadi harus diingat, uang bukan segala-galanya. Saya menjadi anggota DPR di dapil saya dengan dana yang minim. Jadi ketokohan orang-orang harus dilihat,” kata Ruhut kepada detikcom, Rabu (25/7/2012).

Partai NasDem memang memberikan tawaran modal caleg Rp 5-10 miliar untuk Pileg 2014. Rencana hengkangnya beberapa anggota DPR RI dari berbagai parpol ke NasDem ini menghangatkan politik nasional saat ini. Ruhut berharap petinggi NasDem tak meremehkan dunia politik identik dengan uang.

“Jadi saya karena sayang dengan NasDem sebagai partai baru apalagi pendirinya Surya Paloh teman saya dan Harry Tanoe juga sahabat saya, dia mesti hati-hati jangan mengira berpolitik itu semua berdasarkan uang. Karena harus ingat kalau dari partai kami mau diambil kalaupun itu ada dan akhirnya kita tahu siapa dia, saya yakin bisa membacakan isi perut dari yang bersangkutan,” katanya.

Partai Demokrat pun akan selektif memilih kader-kadernya yang akan disiapkan untuk Pileg 2014. Ruhut yakin kader yang punya integritas yang akan disiapkan lagi untuk Pemilu 2014 tidak bermental kutu loncat.

“Kami Secara selektif akan melihat kader-kader kami apa masih pantas diambil. Kami khawatir yang akan diambil ini yang tidak akan dicalonkan lagi. Harus diingat yang menjadi anggota DPRD kabupaten dan kota dia berani mengatakan tegas mereka itu jadi karena partai dan partai itu karena ada tokoh SBY. Jadi kalau mereka keluar dan masuk ke NasDem yang dilihat siapa,” papar Ruhut.

(van/edo)

Marsinggo: Ketika Caleg Dimodali

Marsinggo: Ketika Caleg Dimodali: Muhamad Mustaqim ; Dosen STAIN Kudus, Aktif pada Kajian Sosial The Conge Institute Kudus Sumber :  SUARA MERDEKA, 20 Juni 2012 ...