Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

Hilangnya Jati Diri Masyarakat dan Perantau Minang

Budaya

Kebudayaan pada dasarnya berarti seluruh warisan sosial yang di dalamnya terdapat sejumlah sub-kebudayaan atau warisan sosial khusus. Dalam hal ini kebudayaan Minang merupakan salah satu dari sekian banyak sub-kebudayaan yang jadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia merupakan hasil penggabungan dari sub-sub kebudayaan Jawa, Sunda, Minang, Bali, Bugis, Dayak, Irian Jaya, dll. Yang masing-masing sub kebudayaan memililiki karakrteristik yang berbeda-beda.
Dalam perkembangan kebudayaan masing-masing sub kebudayaan itu saling mempengaruhi karena ada pembauran masyarakat yang berbeda kebudayaan. Salah satu contoh kebudayaan yang banyak terpengaruh serta berinteraksi dengan budaya daerah lain adalah kebudayaan Minang. Banyak nilai dan budaya yang terdapat di Minang yang mengalami pergeseran makna dan tujuan. Hal ini di sebabkan pembauran budaya dan dalam hal ini tidak hanya pembauran dari sub-sub

kebudayaan yang ada di Indonesia melainkan juga pembauran budaya dari luar yang diserap oleh masyarakat Minang tanpa melalui proses filterisasi. Karena penyerapan budaya tanpa filterisasi itu, masyarakat Minang sekarang mulai kehilangan ciri khas sebagai orang Minang. Begitu juga dengan tujuan awal masyarakat Minang mulai mengalami pergeseran makna dan kehilangan identitas sebagai masyarat perantau.
Masyarakat Minang sangat kental dengan nilai budaya dan adat istiadat, sama halnya dengan tradisi merantau sangat indentik dengan masyarakat Minang. Merantau bagi orang Minang merupakan tradisi yang telah mengakar erat karena memiliki nilai yang signifikan bagi putra Minang dalam proses pematangan diri dan pencarian jati diri, serta pematangan ekonomi. Orang Minang tidak akan menjadi besar sebelum ia merantau, mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa rantau telah membesarkan nama mereka (Ronidin, 2006:28). Faktor pembelajaran dan pencarian jati diri di daerah rantau yang berperan besar bagi perkembangan kehidupan orang Minang dan keberhasilan mereka di daerah rantau diperuntukkan bagi pembangunan nagari .
Berbeda dengan zaman sekarang, konsep dan tujuan awal perantau Minang telah mengalami kemerosotan nilai, orang Minang tidak lagi memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan mereka merantau. Mereka hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan material sebagai prioritas utama. Masyarakat Minang tidak peduli lagi dengan tanggung jawab mereka sebagai perantau yang harus memakmurkan nagari (Minangkabau). Daerah rantau bagi masyarakat Minang tidak produktif lagi karena perantau tidak memanfaatkan ilmu dan keberhasilan mereka di daerah perantauan untuk kemakmuran daerah mereka. Orang Minang terkenal dengan adat yang kuat tapi, sekarang tidak lagi demikian, baik di daerah asal dan terlebih di daerah rantau. Masyarakat Minang seperti kehilangan keaslian ’Minang’ mereka.
Keaslian ’Minang’ bagi orang Minang khususya para perantau tidak hanya orang yang punya dan bisa berbahasa Minang, berbeda dengan konsep yang lazim di kalangan perantau Minang sekarang. Perantau Minang sekarang memandang keaslian ’Minang’ adalah orang yang pandai bahasa Minang dan lahir dari keturunan Minang. Konsep yang seperti ini memang benar, tapi tidak hanya itu yang dibutuhkan masyarakat Minang sebagai pedoman jati diri orang Minang. Orang yang tidak punya garis keturunan Minang juga bisa belajar dan pandai berbahasa Minang. Hal ini juga dapat membuktikan bahwa tidak hanya bisa berbahasa dan lahir di Minang yang menjadi patokan keaslian orang Minang, ditambah lagi banyaknya putra asli Minang yang lahir dan besar di daerah perantauan yang tidak bisa berbahasa Minang dan mereka ini tetap diangap orang Minang karena garis keturunan.
Keaslian ’Minang’ orang Minang di daerah asli juga mengalami penurunan nilai. Seperti penurunan fungsi mamak di mata kemenakannya. Mereka (mamak) dinggap tidak lagi membimbing dan mengayomi kemenakan seperti layaknya tugas seorang mamak. Mamak tidak lagi menjalankan kewajiban sepenuhnya sebagai mamak karena jauh dan kurangnya komunikasi dengan kemenakan serta masyarakat. Sehingga tanpa disadari masyarakat Minang mulai kehilangan budaya dan ciri khas. Pergeseran bahasa untuk sebutan mamak juga mulai terjadi, di zaman sekarang panggilan ’mamak’ atau ’etek’ mulai tergantikan dengan sebutan ’om’ dan ’tante’. Masyarakat Minang memandang pergeseran bahasa dari ’mamak’ ke ’om’ hal yang biasa, tapi sebenarnya sebutan mamak merupakan ciri khas orang Minang yang cukup kental karena di daerah lain tidak ada sebutan mamak untuk memanggil saudara laki-laki ibu dan orang yang disegani dalam satu suku. Selain itu para perantau Minang yang laki-laki semakin banyak menikah dengan gadis non-Minang secara tidak langsung mereka mengurangi populasi orang minang, karena anak yang dilahirkan tidak berstatus Minang. Garis keturunan yang dianut orang Minang adalah matrilinear. Dari pergeseran-pergeseran nilai yang terjadi dalam masyarakat Minang terdapat penurunan dan hilangnya jati diri masyarakat dan perantau Minang. 

 (Ridwandi Al Rasyid.)

JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur

“Masa lalu adalah Prolog” (Tertulis di Arsip Nasional, Washington, DC)
Dalam Bagian Satu dari artikel ini (Probe, Maret-April, 1996) kami telah bicarakan tentang Freeport melalui tahun-tahun awal pengambilalihan tambang mereka oleh pemerintah Kuba yang berpotensi menguntungkan di Teluk Moa Bay, sebagaimana pelarian mereka bersama Presiden Kennedy mengenai masalah penimbunan ini. Namun konflik terbesar yang akan dihadapi Freeport Sulphur adalah mengenai perumahan di satu negara menghasil cadangan emas terbesar di dunia dan cadangan tembaga:ketiga terbesar, yaitu: Indonesia. Untuk memahami kerusuhan terakhir di pabrik Perusahaan Freeport (Maret, 1996), kita perlu melihat kepada akar dari perusahaan ini, untuk menunjukkan bagaimana hal-hal yang mungkin sangat berbeda harus Kennedy jalani untuk melaksanakan rencananya bagi Indonesia.

Senin, 26 Agustus 2013

Museum Jakarta


KOMPAS.com - Museum masih menjadi salah satu tempat menarik untuk dikunjungi masyarakat Jekarta. Selain hiburan, museum juga sarana wisata edukatif yang tetap dibutuhkan masyarakat di tengah serbuan pusat-pusat hiburan dan wisata modern saat ini. Untuk itulah, kali ini secara khusus Kompas.com mengajak Anda berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta, salah satu museum bersejarah di Jakarta dalam bentuk virtual. Dalam format foto 360 derajat, Anda bisa menyaksikan dan mengamati "dari dekat" setiap sudut museum ini. Mulanya, pada masa pemerintahan VOC di Batavia, Museum Sejarah Jakarta digunakan sebagai gedung Balaikota (Stadhuis). Pada 27 April 1626, Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) membangun gedung balaikota baru yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Selain sebagai Balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai Pengadilan, Kantor Catatan Sipil, tempat warga beribadah di hari Minggu, dan Dewan Kotapraja (College van Scheppen). Pada tahun 1925-1942 gedung ini juga dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 digunakan pula sebagai Markas Komando Militer Kota (KMK) I yang kemudian menjadi Kodim 0503 Jakarta Barat. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974. Segala ihwal Jakarta Terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat, Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942), dan dibuka untuk umum pada tahun 1939. Museum Oud Batavia ini merupakan lembaga swasta di bawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 dan turut berperan dalam mendirikan Museum Nasional. Koleksi-koleksinya kebanyakan merupakan peninggalan-peninggalan masyarakat Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI, seperti mebel, perabot rumah tanngga, senjata, keramik, peta, serta buku-buku. Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan pada tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi dari Museum Nasional. Sejak 1999, Museum Sejarah Jakarta digagas bukan sekedar sebagai tempat untuk merawat dan memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi seluruh khalayak untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Museum ini berupaya menyediakan berbagai informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih kreatif, serta menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif dan menarik guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan budaya. Selamat menyaksikan! Sumber: www.asosiasimuseumindonesia.org

Sejarah Jakarta

Oleh : Yudhi S Suradimadja
Sejarah Jakarta
Orang Betawi selama empat abad (12-16 Masehi) pernah menjadi rakyat Pajajaran. Pusat kotanya ada di Pakuan, sekitar Bogor sekarang. Pada masa itu orang Betawi telah berbahasa Melayu, sementara kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Sejak abad ke-12 pelabuhan Kalapa dikuasai Pajajaran dan berganti nama jadi Sunda Kelapa. Kerajaan ini beragama Budha. Tidak heran kalau pendeta Budha punya kedudukan istimewa. Tapi, orang Betawi hampir tidak ada yang beragama Budha, mereka menganut kepercayaan lama.
Pada abad ke-14 di Karawang berdiri Pesantren Kuro. Karawang termasuk wilayah Pajajaran. Yang memerintah adalah Prabu Siliwangi. Menurut penuturan Yahya Andi Saputra, yang banyak menekuni sejarah Jakarta, suatu ketika Prabu Siliwangi mengunjungi Pesantren Kuro. Di sini sang prabu jatuh hati pada seorang putri bernama Subang Larang. Sang Prabu dikaruniai putera bernama Kyan Santang. Ia menganut agama Islam.
Orang Betawi banyak yang mengikuti agama Islam yang disebarkan Kyan Santang. Pendeta kerajaan Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat bersembahyang (shalat) pengikut Kyan Santang dinamakan langgar. Orang Betawi sampai kini lebih banyak menyebut langgar katimbang mushala.
Pelabuhan Sunda Kalapa sejak dikuasai Pajajaran sangat makmur. Banyak disinggahi kapal-kapal dari mancanegara, disamping perahu dari berbagai tempat di Nusantara. Menurut penuturan Yahya Andi Saputra, kesenian di zaman itu berkembang pesat. Seperti tari-tarian dan gamelan. Orang Betawi banyak yang berprofesi di bidang kesenian. Mereka memajukan kesenian Betawi, seperti topeng, ubrug dan ujungan.

Selasa, 25 September 2012

Bung Karno “Lincoln”nya Indonesia


H. Amin Aryoso, S.H.
 Mengapa tulisan dan pidato-pidato Bung Karno selalu diterbitkan ulang? Apakah isinya masih relevan dengan kondisi sekarang, mengingat pidato-pidato itu sudah lama diucapkannya? Bukankah ajarannya sudah ketinggalan zaman, terutama diukur dari cepatnya perubahan di era informasi dan globalisasi dewasa ini? Apakah ini bukan berarti menyuruh kita supaya berorientasi ke belakang dan bukan ke masa depan yang punya perspektif? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, diperlukan parameter tertentu. Tentu saja ilmu pengetahuan tidak mengajar kita supaya berorientasi ke masa silam tapi selalu mengatakan supaya berorientasi ke masa depan. Kita mempelajari sejarah memang bukan dimaksudkan supaya kita selalu berorientasi ke belakang. Kita mempelajari sejarah justru supaya kita bisa lebih arif melangkah ke depan. Ada yang menganggap ajaran Bung Karno adalah suatu yang sudah klasik. Klasik sama sekali bukan kuno atau ketinggalan zaman dalam pengertian nilai. Karya-karya klasik dari Beethoven atau Mozart misalnya, bahkan selalu dinikmati sebagai musik yang indah dan abadi, dihasilkan tokoh-tokoh musik yang sangat berbakat. Ajaran kitab-kitab suci yang dibawa oleh para Nabi, meskipun sudah ribuan tahun usianya, ajarannya tetap aktual di setiap zaman dan dianut oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Dalam ajaran Islam pengertian ini lebih jelas lagi dengan mengacu kepada HadisNabi yang mengatakan : Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah untuknya pahala segala amalnya, kecuali dalam 3 hal : 1. Sedekah jariah yang pernah diamalkannya selagi ia hidup. 2. Ilmu yang pernah diajarkannya dan tetap dimanfaatkan orang. 3. Anak-anak saleh yang ditinggalkan dan selalu berdo’a untuk kedua orang tuanya. Dalam Hadis ini jelas dikategorikan bahwa ilmu yang terus dimanfaatkan adalah sesuatu yang senantiasa mendapat ganjaran dari Tuhan sampai kapanpun. Membicarakan ajaran Bung Karno, memang beliau bukan Nabi yang ajarannya bisa abadi, tapi beliau seorang genius dan ajaran (ilmu) yang ditinggalkannya senantiasa bermanfaat, seperti halnya banyak penemuan genius lainnya. Kita ambil saja contoh Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16 (1860-1865) dengan pemikirannya yang agung menghapuskan perbudakan dan memproklamasikan kemerdekaan semua budak di Amerika Serikat. Ini adalah jasa abadi Lincoln yang tidak pernah dilupakan oleh rakyat Amerika. Bagaimana dengan Bung Karno? Situasi kondisi Paska Proklamasi Indonesia dipenuhi issue bahwa Republik Indonesia adalah bikinan Jepang dan Bung Karno dituduh Kolaborator Jepang, demikian tuduhan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr. Van Mook. Namun, seorang wartawan BBC (Inggeris), Richard Straub, pada 22 September 1945 mendarat bersama-sama tentara Inggeris yang mewakili Sekutu di Tanjung Priok, sebagai wartawan perang, dibawah komando Jenderal Sir Philip Christison, berpandangan yang diametral bertentangan dengan Dr. Van Mook. Prof. Bernhard Dahm dalam bukunya “Soekarno and the struggle for Indonesia independence”, merekam laporan wartawan perang Richard Straub antara lain sbb: Christison yang mendarat di Jawa 22 September 1945 dalam pernyataannya pertama mengatakan bahwa ia tidak akan menghalau pemerintah Republik. Pihak Inggeris hanya mengharapkan pemerintah Republik terus menyeleng­garakan administrasi sipil di daerah-daerah yang tidak di duduki oleh tentara Inggeris. Pihak Inggeris bermaksud untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin golongan (Indonesia-Belanda), untuk memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa Christison akan mengusahakan agar pemimpin-pemimpin Belanda dan Indonesia mau menghadiri satu Konperensi Meja Bundar, yang ternyata di tolak mentah-mentah oleh Belanda. Kiranya tak mungkin ada sangkalan yang lebih jelas lagi terhadap prasangka Soekarno yang sudah berlangsung ber­puluh-puluh tahun terhadap Barat dan yang di saat-saat itu dengan cerdik ia sembunyikan dari pada pernyataan Jenderal Inggeris itu. Bung Karno mengatakan, orang-orang Inggeris itu ternyata tidak datang sebagai imperialis pemangsa seperti diperkirakan semula, mereka bahkan mengatakan tidak ber­­maksud untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Tentara mereka hanya ditugaskan untuk mengungsikan tawanan-tawanan perang, melucuti dan memulangkan serdadu-serdadu Jepang dan memelihara ketertiban. Bung Karno segera mengatakan bahwa jika hanya itu tujuan mereka, rakyat Indonesia tidak akan merintangi Sekutu dalam melakukan pekerjaan mereka. Dalam waktu bersamaan, Soekarno memberikan wawancara serupa maksudnya dengan apa yang diucapkannya itu, kepada seorang wartawan perang Inggeris, Richard Straub dari BBC London, yang kemudian mela­porkan dengan penuh antusiasme dalam siaran BBC 2 Oktober 1945 (sekembalinya wartawan itu dari Indonesia), bahwa “Lincoln” masih hidup di Indonesia. Soekarno tidak disangsikan lagi adalah “Lincoln” itu, orang yang paling baik di Indonesia telah menyatakan kepadanya, tiga setengah tahun ia telah berhasil mendirikan sebuah Republik yang mencontoh Amerika Serikat, dan yang berdasarkan demo­krasi. Sekarang Indonesia hanya menantikan pengakuan dari Amerika Serikat. Yang dimaksud oleh Richard Straub bahwa “Lincoln” masih hidup di Indonesia, ialah : Kalau Presiden Abraham Lincoln telah berhasil menghapuskan perbudakan dan memprokla­masikan kemerdekaan semua budak di AS, juga di Indonesia Bung Karno telah berhasil memerdekakan 70 juta rakyat Indonesia, penduduk waktu itu, seperti halnya Lincoln. Untuk menjelaskan mengapa kata-kata Bung Karno begitu dikagumi di samping Proklamasinya, terletak pada sepenggal kata-kata yang menghantarkan pembacaan teks Proklamasi bahwa : “Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di tangan kita sendiri. Bahwa hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya”. Sesudah itu teks proklamasi dibacakan yang segera menjadikan 70 juta rakyat Indonesia waktu itu merdeka dari penjajahan Belanda yang sudah berlangsung 350 tahun. Namun sebelum itu, Bung Karno juga sudah memper­sembahkan sebuah tulisan monumental “Mencapai Indonesia Merdeka” yang ditulisnya pada tahun 1932. Begitu buku tipis ini yang tidak lebih dari 100 halaman beredar, langsung dinyatakan terlarang, dan dalam penggeledahan dari rumah ke rumah, semua buku yang ditemukan dirampas, tuduhan yang mungkin saja benar, karena tulisan itu dijadikan pedoman bagi rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya. Sesudah buku tipis ini terbit, Bung Karno ditangkap kembali dan diasingkan ke Endeh kemudian dipindah ke Bengkulu, sampai Jepang datang mengusir Belanda dari Indonesia. Tiga setengah tahun kemudian, Indonesia pun merdeka. Tindakan Belanda melarang buku-buku Bung Karno di tiru mentah-mentah oleh Orde Baru dalam rangka de-Soekarnoisasi, di mana semua buku Bung Karno dimus­nah­kan dan dilarang beredar. Itulah sebabnya Yayasan Kepada Bangsaku merasa terpanggil untuk ikut menerbitkan kembali pilihan tulisan atau pidato-pidato Bung Karno secara berkelanjutan, karena Bung Karno bukan saja Proklamator Kemerdekaan tapi juga Bapak Bangsa dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pemikirannya selalu memberikan inspirasi kepada setiap orang yang mau berjuang untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Akhirnya kami ucapkan terimakasih kepada Dr. H. Roeslan Abdulgani yang telah mengizinkan kami menggunakan dokumentasi pribadinya yang berisi naskah-naskah yang dimuat dalam buku ini. Jakarta, 17 Agustus 2001 Subowo bin Sukaris Hasta Mitra Updated at: 12:17 PM

Senin, 27 Agustus 2012

Luruskan Fakta Sejarah NKRI‏

18 Agu 2012 at 10:41am
 
Padang(CARE)- Kita sering mendengar atau membaca petuah bijak “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah “. Tapi kini Paradigma itu bergeser menjadi “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah merekayasa  sejarah ”
28 Februari 2011 tepat satu abad kelahiran Tokoh Nasional yang terlanjur di cap sebagai Pemberontak.Tokoh yang berjasa menyelamatkan bangsa ini dari kekosongan Pemimpin ketika Presiden Soekarnao beserta Wapres M.Hatta  di tangkap Belanda dalam Agresi  Militer ke Ibukota RI ; Jogjakarta 19 Desember 1948 dan di asingkan ke Bangka.Atas Perintah Presiden Soekarno  mandat pemerintahan diserahkan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara sebagaimana tertulis dalam Telegram resmi Presiden Soekarno
“ Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari minggu tgl 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangannja atas ibukota-jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menugaskan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra  ”.
Telegram  tersebut tidak pernah sampai ke Bukittinggi karena sulitnya komunikasi pada saat itu.Tapi ketika mendengar berita penangkapan Presiden dan wakil Presiden sore harinya, Mr Sjafruddin Prawiranegara langsung mengambil inisiatif senada dengan perin Presiden Soekarno.
Dalam rapat sore harinya beliau mengusulkan pembentukan  pemerintah darurat untuk mengisi kekosongan Kepala Negara sebagai Syarat Internasional agar Indonesia diakui sebagai suatu Negara yang berdaulat.Atas usaha Pemerintah Darurat Indonesia Belanda akhirnya mau berunding dan melalui perundingan Roem Royen akhirnya Belanda membebaskan Presiden Soekarno dan Moh Hatta beserta dan kawan kawan kembali ke Ibukota Jogjakarta pada tanggal 13 juli 1949.dan diadakan rapat antara Pemerintahan Darurat RI dengan presiden Soekarno salah satu agendanya adalah pengembalian Mandat dari Mr Sjafruddin Prawiranegara kepada Ir Soekarno sebagai Presiden RI yang dilaksanakan secara resmi pada tanggal 14 Juli 1949.
Itulah Fakta sejarah yang harus diakui oleh Bangsa ini agar bisa menjadi bangsa yang BESAR. Menyelamatkan Republik ini dari kekosongan Pemimpin agar diakui sebagi Negara oleh Dunia Internasional
 Liciknya Pemimpin Negeri ini : Kalau Anda masuk ke Bina Graha era Orde baru Ada satu foto yang terpajang besar dan mencolok dalam foto itu Jenderal Besar Soedirman dan Soeharto masih muda.Tapi tahukan Anda kalau foto tersebut telah melalui proses Cropping dengan memotong gambar Mr Sjafruddin Prawiranegara dan hanya menampilkan Jend Besar Soedirman dan Soeharto .Entah apa motifnya,Yang jelas pemimpin Negeri ini telah berbuat kezoliman pada Tokoh Yang Melahirkan Republik ini.
INILAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN  FAKTA SEJARAH.
  1. Ir Soekarno  : Presiden Pertama kemudian setelah perubahan dari Republik menjadi Republik Indonesia Serikat , Soekarno menjabat sebagai Presiden RIS
  2. Mr Sjafruddin Prawiranegara  : Menjabat Presiden agar tidak terjadi kekosongan Pemimpin sebagai syarat agar Indonesia diakui sebagi Negara oleh dunia Internasional.
  3. Mr Assaat : Presiden Republik Indonesia terpisah dari RIS dan akhirnya melebur menjadi Negara kesatuan Republik Indonesia NKRI dibawah Presiden RIS Ir Soekarno pada tanggal  15 agustus 1950, ini berarti Mr Assaat menjabat Presiden selama 9 bulan.
  4. Soeharto
  5. BJ Habbie
  6. Abdurrahman wahid
  7. Megawati Soekarno Putri
  8. Soesilo Bambang Yudhoyono.
” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TIDAK PERNAH MELUPAKAN JASA PAHLAWAN  DAN TIDAK MEREKAYASA  SEJARAHNYA  ” 
(HASBI TANJUNG)

Jumat, 27 Juli 2012

Chairul Tanjung, Si Anak Singkong


Oleh: Dedi Muhtadi dan Cornelius Helmy
Dari selembar kain batik halus milik ibunya, 31 tahun lalu, Chairul Tanjung atau CT kini mampu menyediakan pekerjaan bagi sekitar 75.000 orang di berbagai perusahaan miliknya. Kalau rata-rata karyawan itu anggota keluarganya empat orang, maka sekitar 300.000 orang hidup dari berbagai kegiatan usahanya.
Saya yakin, hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kehendak Yang Maha Kuasa,” ujar Chairul saat berbincang santai di sela-sela kesibukannya mempersiapkan peresmian Kompleks Trans Studio dan hotel mewah berstandar internasional, Trans Luxury Hotel, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/6) malam.
Oleh karena itu, ekspansi bisnis ke berbagai bidang usaha yang dilakukannya merupakan bagian rasa syukur dari semua kesempatan yang diberikan Allah SWT.
Bagi Chairul, rasa syukur tak cukup hanya berdoa dan mengucap alhamdulillah, tetapi harus bekerja keras dan terus berusaha. Dengan berkembang, berarti semakin banyak kesempatan kerja dan semakin banyak orang bisa hidup dari perusahaannya. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berguna untuk manusia lainnya.
”CT di mata saya adalah seorang Indonesia yang diimpikan siapa saja. Muda, bekerja keras, sukses besar, bersih dan gentleman,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan.
Namun, Chairul berusaha tetap rendah hati. Ia merasa bukan orang pintar karena orang pintar di negeri ini banyak. Begitu pula yang bekerja keras, pun tidak sedikit.
Sukses menjalankan usaha dan mempekerjakan puluhan ribu orang tidak membuat Chairul merasa menjadi aktor utamanya. ”Itu skenario Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Kain batik halus
”Chairul, uang kuliah pertamamu yang Ibu berikan beberapa hari lalu Ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus Ibu. Belajarlah dengan serius, Nak.” Kata-kata yang diucapkan Hj Halimah, ibunda Chairul, itu masih terngiang jelas dan menyentuh kalbu yang paling dalam.
Ia tidak menyangka ibunya terpaksa melepas kain batik halus simpanan untuk membiayai ongkos masuk kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI) tahun 1981. Padahal Chairul yakin, kain batik itu adalah harta paling berharga yang kala itu dimiliki ibundanya.
”Di satu sisi, saya terpukul dan terharu mendengar hal itu. Namun, dari situlah saya bertekad tidak akan meminta uang lagi kepada ibu. Saya harus bisa memenuhi biaya kuliah sendiri,” kata Chairul.
Kompleks bisnis terpadu itu akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan duta besar sejumlah negara. Ia mendedikasikan acara ini untuk perjuangan ibunya, Halimah, yang telah menjadi sosok penyemangat hidupnya hingga kini.
Batik halus yang mirip dengan milik ibunya dulu, akan dijadikan suvenir utama bagi para undangan.
Buku praktikum
Titik balik kemandiriannya dimulai saat Chairul melihat peluang usaha pembuatan buku praktikum kuliah. Ia menjual cetakan buku praktikum dengan harga lebih murah dibandingkan dengan di kios fotokopi yang ada di sekitar Kampus UI.
Ia bekerja sama dengan usaha percetakan milik kerabat salah seorang temannya. Beruntung, usaha pertamanya ini dilakukan tanpa modal karena pemilik percetakan tak mengharapkan uang muka. ”Keuntungan pertama saya Rp 15.000, dan terhitung besar pada zaman itu. Namun, pengalaman yang paling berharga adalah saat belajar soal jaringan dan kepercayaan,” cerita Chairul Tanjung.
Pengorbanan ibu dan keuntungan Rp 15.000 pertama itu membangkitkan rasa percaya dirinya. Perlahan Chairul mengembangkan usahanya dengan mencoba bisnis importir alat kedokteran hingga eksportir sandal.
Dia juga pernah merugi saat gagal merintis pembuatan pabrik sumpit. Namun, kejadian itu tidak membuatnya patah arang.
”Saya selalu menerima kegagalan dengan tangan terbuka. Percaya atau tidak, bila semuanya diterima dengan terbuka, lama-lama kegagalan akan enggan datang,” selorohnya.
Berbekal semangat dan filosofi itu, Chairul dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses Indonesia kini. Majalah Forbes menempatkan Chairul Tanjung pada urutan 937 orang kaya di dunia dengan total kekayaan satu miliar dollar AS.
Beberapa kalangan menyebut Chairul bertangan emas, yang bisa menjadikan semua usahanya nyaris sempurna.
Mengambil alih
”Tangan emas” dibuktikannya saat mengambil alih kembali Bank Mega tahun 1996. Saat itu Bank Mega tengah sakit keras dengan saldo merah di Bank Indonesia mencapai Rp 90 miliar. Sebesar 90 persen di antaranya merupakan kredit macet. Hasilnya, tahun 2011 Bank Mega masuk jajaran 12 bank di Indonesia dengan aset Rp 62 triliun.
Stasiun televisi TransTV dan Trans7 dibawanya menjadi favorit masyarakat dengan program yang dikelola sendiri oleh para personelnya. Pusat hiburan masyarakat di Makassar dan Bandung, seperti Trans Studio, pun dalam waktu singkat menjadi kawasan idola masyarakat Indonesia.
Tidak heran, banyak perusahaan berskala lokal dan internasional menawarkan diri untuk dibidaninya. Salah satunya adalah saat dia mengakuisisi raksasa ritel Perancis, Carrefour. Chairul mengatakan, bukan dia yang memilih mengakuisisi, tetapi pihak Carrefour yang menawarkan kepadanya tahun 2010.
Selain terus membuka kesempatan kerja lewat berbagai unit usaha baru, Chairul Tanjung juga menggagas berbagai organisasi dan kegiatan amal, baik untuk warga miskin maupun korban bencana alam. Di antaranya lewat Chairul Tanjung Foundation, Rumah Anak Madani, Komite Kemanusiaan Indonesia, dan We Care Indonesia. ”Saya sempat terharu saat seorang warga mengatakan akan terus berbelanja di Carrefour agar saya bisa membantu semakin banyak orang,” katanya.
Sebagai manusia biasa, Chairul Tanjung juga pernah punya kekhawatiran besar. Ia merasa cemas bila tidak punya energi lagi untuk mengurus perusahaan yang memayungi puluhan ribu orang ini.
Namun, dia menambahkan, sekarang ia sudah punya jurus jitu untuk menekan kecemasan itu. Tahun 1995, saat mengantar ibunda menunaikan ibadah haji, di pintu Kabah ia mengikrarkan diri sebagai prajurit Allah.
”Sebagai prajurit, apa pun yang Dia berikan, baik, buruk, susah, senang, ringan, berat, insya Allah akan senantiasa saya jalankan dengan ikhlas. Saya pasrah kepada-Nya yang sudah memberikan berkah ini. Karena, toh, dulu juga saya bukan siapa-siapa,” ujar Chairul tersenyum, tanpa beban.
Sumber: Kompas, 2 Juli 2012, “Chairul Tanjung, Tangan Emas, Skenario yang di Atas”

Kamis, 05 Juli 2012

Borobudur


Built between 778 AD and 842 AD by the Cailendra dynasty, Borobudur is a gigantic monastery located in Central Java, the cultural capital of Indonesia. Regarded as one of the seven wonders of the ancient world, the massive monument in the form of a stepped pyramid exhibits an architectural genius of time with unsurpassed artistic merit.
Once deserted and hidden under volcanic ash and thick tropical jungle for hundreds of years, Borobudur has been completely restored and was officially opened by the President of Indonesia on February 23,1983. The restoration took eight years to complete, and was funded by the Government of Indonesia, with an aid from the UNESCO and donations from 27 foreign governments as well as private citizens.
To commemorate the 20th anniversary of the restoration of Indonesia's architectural masterpiece, the Borobudur Commemorative Coins and Medallions are expertly minted according to the highest quality standard in 999.9 gold, and 999/- silver. Depicting a panoramic view of Borobudur in the reverse, the meticulously crafted numismatic pieces are endorsed by pt. taman wisata candi BOROBUDUR, PRAMBANAN DAN RATU BOKO / the Ministry of Culture and Tourism of Indonesia.
This latest addition to the 'Wonders of the World Series' comes in resplendent gold and silver. The Premium Collection - World and India features 1 oz gold coin and medallion. The Advantage Collection - World and India, meanwhile, is outstanding with 10 g gold, and 1 oz fine silver coins or medallions.
Let's join GOLDQUEST in honouring one of Indonesia's greatest archaeological finds. Experience the splendid beauty of the world's wonder in the Borobudur Commemorative Coins and Medallions - a token of admiration for the beautiful history and culture of Indonesia.