Tampilkan postingan dengan label kekerasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekerasan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2012
Rabu, 31 Oktober 2012
Warga Bali Kecam Kerusuhan di Lampung Selatan
TEMPO.CO, Denpasar - Beberapa hari setelah kerusuhan di Lampung, warga Bali tidak tinggal diam. Rabu siang, 31 Oktober 2012, ratusan pemuda Bali dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bali. Dengan pakaian adat Bali ringan dan mengatasnamakan diri sebagai warga Bali, mereka menuntut keadilan untuk ribuan warga Bali yang menjadi korban.
Beberapa ormas yang tergabung dalam aksi ini antara lain Baladika, Persatuan Pemuda Bali (PBB), Cakrawayu, Jala Satria Garuda, dan Tarung Derajat. Massa menuntut agar aparat berlaku adil terhadap seluruh lapisan masyarakat. Terutama aparat di Lampung. Pasalnya, mereka berpendapat, aksi kekerasan harusnya dapat dihindari jika aparat bisa bersikap tegas.
Bagi mereka, adanya aksi yang mengarah pada pembantaian massal merupakan ciri negara yang tidak memiliki wibawa. Massa juga menuntut upaya penyelesaian dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
“Kalau perlu, Gubernur (Bali-red) menghadap Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) agar Presiden cepat menyelesaikan permasalahan,” ujar Ketua Harian PBB Made Muliawan Arya dalam orasinya.
Suasana sedikit memanas oleh orasi dan teriakan-teriakan massa. Mereka mendesak agar ditemui oleh wakil rakyat. Massa yang makin lama makin banyak jumlahnya ini akhirnya ditemui Ketua DPRD Bali AA Ngurah Oka Ratmadi.
“Saya pasti sangat menyesalkan semua kejadian di Lampung. Itu adalah masalah kecil yang menjadi besar,” kata pria yang akrab disapa Cok Rat ini, menenangkan massa. Cok Rat berjanji menyampaikan aspirasi ini ke tingkat parlemen yang lebih tinggi.
Cok Rat juga setuju bila Presiden harus turun tangan dalam hal ini. “Bila perlu akan ke Presiden agar pemerintah punya tanggung jawab,” kata dia.
Ketua Dewa Persatuan Pasraman Bali (DPPB) Acharya Yogananda meminta masyarakat Bali tidak mudah terpancing dan tidak memperuncing masalah. “Aparat harus segera mencari akar persoalan sehingga tidak meluas,” ujar dia di tempat terpisah.
KETUT EFRATA
Kamis, 18 Oktober 2012
Rektor Unpam: Mahasiswa belajar demokrasi
Amba Dini Sekarningrum - Okezone
Kamis, 18 Oktober 2012 − 17:36 WIB
Ilustrasi (dok:Istimewa)
Rektor Unpam Dayat Hidayat mengaku, sangat menyesalkan peristiwa itu. Dia mengatakan, bisa mengerti ulah mahasiswanya yang sedang belajar berdemokrasi. Untuk itu, dia merasa maklum. Namun tetap tidak bisa membenarkan keributan yang ditimbulkan dalam aksi tersebut.
"Selalu ada perbedaan pandangan, adik-adik mahasiswa ini sedang belajar berdemokrasi. Perbedaan jadi permakluman, tapi saya mengimbau kepada adik-adik mahasiswa untuk mengemukakan ide, pikiran secara akademik juga dengan cara berdialog dan berdiskusi, bukan dengan seperti ini," sesal Dayat, kepada wartawan, di Pamulang, Kamis (18/10/2012).
Dia menambahkan, kedatangan Wakapolri Irjen Nanan Sukarna ke kampus ialah untuk tujuan akademisi dan ilmah. Nanan diundang sebagai pembicara dalam seminar "Peran Serta Polri dan Tantangan Masa Depan" yang digelar mahasiswa dan juga pihak rektorat.
"Kehadiran Wakapolri ke Unpam atas undangan kampus sebagai intelektual dalam diskusi fungsi Polri di kampus," terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan mahasiswa Unpam menggelar aksi demonstrasi menolak kedatangan Wakapolri Irjen Nanan Sukarna di kampus mereka. Saat Nanan tiba, mahasiswa melakukan penghadangan dan aparat kepolisian melakukan blokade hingga terjadi bentrokan.
Sedikitnya, tiga orang mahasiswa dan lima anggota kepolisian mengalami luka dalam bentrok itu. Mereka ada yang dilarikan ke Puskesmas Pamulang, ada juga yang dibawa ke RSUD Tangerang Selatan. Selain itu, seorang wartawan tv juga ada yang terluka.
Aparat kepolisian sempat mengeluarkan tembakan gas air mata ke arah mahasiswa dan ke dalam kampus. Asap gas air mata ini, sempat melukai beberapa mahasiswa yang berada di dalam dan luar kampus. Bahkan, aparat sempat mengepung kampus dengan membawa senjata laras panjang.
Kendati begitu, kini situasi sekitar kampus Unpam mulai berangsur kondusif. Sebagian mahasiswa masih ada yang bertahan di dalam kampus, dan beberapa petugas kepolisian terus berjaga di luar kampus.
(san)
Kamis, 27 September 2012
Pelita Hati - INDONESIA SARANG TERORIS?
FS Swantoro
Ketika Perdana Menteri Singapura,
Lee Kuan Yew, menyatakan, “Indonesia sarang teroris” tahun 2001, banyak
politisi kita dan tokoh muslim yang tersinggung. Bahkan Wakil Presiden,
Hamzah Haz waktu itu, dengan nada berang meminta agar Perdana Menteri
Lee Kuan Yew, “tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.”
Namun seiring perjalanan waktu, dari
tahun 2000 hingga tahun 2012, marak aksi teror di Indonesia, yang
dilakukan para teroris hingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Beberapa
di antara mereka anggota jaringan al-Qaeda, pimpinan Osama Bin Laden.
Berikut beberapa aksi teror yang dilakukan teroris, seperti; aksi bom di
Kedubes Pilipina dan Bom di Bursa Efek, Jakarta, serta Bom Natal
(Agustus-Desember 2000); Bom di Gereja Santa Anna, Duren Sawit dan di
Atrium Senen, Jakarta (Juli-September 2001); Bom Bali I (Oktober 2002);
Bom di Mabes Polri dan Bandara Soekarno Hatta (Pebruari-April 2003); Bom
di Kedubes Australia (September 2004); Bom Bali II dan bom di Pasar
Palu (Oktober-Nopember 2005); Bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton
(Juli 2009); Penembakan tak dikenal di Aceh dan perampokan Bank CIMB,
Medan, Sumatera Utara (Januari-September 2010); serta bom di Polresta,
Cirebon (April 2011).
Selain itu aksi teror mutakhir,
penembakan terhadap polisi di Pos Polisi Singosaren, Solo, Jawa Tengah
(30/8/2012). Dua minggu sebelumnya terjadi penembakan terhadap Pos
Pengaman Polisi di Gemblekan Solo, hingga menimbulkan dua Briptu Polisi
terluka. Pelaku diduga telah mempersiapkan target pos polisi untuk
diserang. Sasaran teroris dalam penembakan polisi di Solo, Jawa Tengah,
adalah untuk membuat polisi takut. Aksi teroris itu telah dirancang
sejak tahun 2007, hingga teroris bisa mengkondisikan konflik dan suasana
mencekam muncul di Solo, seperti konflik di Ambon dan Poso tahun
2000-2004. Sesudah itu, mereka berharap agar Syariat Islam bisa
ditegakkan dan khilafah Islamiyah dapat berdiri.
Jaringan teroris di Indonesia kini telah
melakukan perombakan besar-besaran. Agar sulit dideteksi, mereka
bermetamorfosa, mengubah pola gerakan dan strateginya. Salah satu
bentuknya dengan memecah kelompok mereka menjadi kelompok kecil. Selain
itu, mereka menggeser gerakan dan pelatihan jaringannya ke sejumlah
provinsi.
Menurut Direktur Penindakan Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Dr. Petrus Reinhard
Golose (2012), dari pemetaan yang dilakukan BNPT, berbagai gerakan
jaringan terorisme kini tidak berpusat hanya di Solo. Tetapi sudah
menyebar ke wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Sulsel dan Sulteng.
Sementara di Sumatera Utara, dijadikan wilayah pengumpul dana untuk aksi
terror mereka.
Solo menjadi pusat jaringan terorisme,
karena banyak alumni pondok pesantren Ngruki Sukoharjo. Jaringan mereka
telah bermetamorfosa dari kelompok besar jadi kelompok kecil. Namun
sasarannya masih Pulau Dewata, Bali. Eksistensi terorisme di Solo
terakhir terlihat ketika bom bunuh diri Achmad Yosepa Hayat di Gereja
Bethel, Kepunton, September 2011. Aksi itu terjadi karena ada dukungan
jaringan teroris dari Cirebon.
Banyak anggota teroris Indonesia berasal
dari kelompok Islam Radikal Jamaah Islamiah (JI). Para anggota JI,
awalnya ditemukan Abdullah Sungkar di Malaysia, lalu dilanjutkan Abu
Bakar Basyir. Tujuannya ingin menerapkan syariah Islam dan membentuk
Greater Islamic State. Target JI adalah : (1) tempat beribadat, gedung,
kedutaan asing; (2) ada target lembut; tempat publik, pusat belanja,
hotel, kelab malam, dan gedung kedutaan asing utamanya yang ada
koneksitas AS; (3) kelompok lain dengan alasan individu atau bangunan
dengan balas dendam berkenaan dengan keluhan individu.
Gerakan teroris yang telah melaksanakan
banyak aktivitas di Indonesia adalah anggota JI yang dipimpin Abu Bakar
Basyir. Untuk strategi mereka, JI membagi wilayah kerja ke dalam empat
bidang (Mantiki): (1) Mantiqi Ula/I: Singapura perlindungan wilayah
ekonomi dan Malaysia. Pemimpin pembentuk adalah HAMBALI dan lalu diubah
ke MUKLAS; (2) Mantiqi Sani/II: Konflik Area perlindungan bagian dari
Indonesia dipimpin ABU IRSYAD; (3) Mantiqi Thalid/III: Pelatihan Area
perlindungan Pilipina Selatan di Mindanau dipimpin oleh MOHNASIR; (4)
Mantiqi Ukhro/IV perlindungan Australia, dipimpin ABD ROHMI AYUB. Setiap
Mantiqi dibagi menjadi Wakalah. Setiap Wakalah mensupervisi Chatibah
Qirdas dan Setiap Chatibah Qirdas mensupervisi Fiah. Untuk menyelesaikan
pembagian kerja, aktivitas teroris mulai: Perencana Strategis,
Kelayakan Study, Penelitian, Observer, pembuatan target, penyedia
logistik, pembuatan bom, dan menyiapkan bomber (sang pengantin).
Penangkapan beberapa tersangka teroris
oleh Densus 88 Mabes Polri di Solo dan Depok belangan ini merupakan
pertanda bahwa kelompok teroris kecil atau sempalan dari kelompok besar
JI masih eksis di Indonesia, meski tokoh seniornya sudah ditangkap atau
terbunuh dalam operasi anti teror seperti Amrozi, Muklas, Imam Samudra,
Ali Imron, Dr. Azahari, Nurdin M Top, Dul Matin, Umar Patek dan
sebagainya.
Seiring waktu, modus yang digunakan
jaringan teroris baik dalam menggalang dana maupun mencari anggota baru
kini semakin moderen. Hal ini dikarenakan anggotanya berusia muda.
Mereka direkrut oleh anggota senior dan dilatih dengan tujuan
regenerasi. Regenerasi selalu terjadi. Dalam insiden terorisme, selalu
ada yang tidak ditangkap sehingga ancaman terorisme di Indonesia belum
pudar. Dari berbagai aksi terror itu, harus diakui bahwa “Indonesia
adalah sarang teroris.” Karena itu, sangat dibutuhkan kebijakan nasional
terpadu yang implementasinya menuntut kehadiran pemerintah dan pimpinan
nasional yang konkrit dan sungguh-sungguh.
Selasa, 28 Agustus 2012
Inilah Kronologis Rusuh Sampang Versi Kontras
REPUBLIKA.CO.ID, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindakan
Kekerasan (Kontras) mengeluarkan kronologis peristiwa rusuh Sampang
yang diterima mereka. Kekerasan terhadap muslim syiah di Dusun
Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kabupaten Sampang, Madura menurut
Kontras dilakukan oleh kelompok orang yang mengatasnamakan ahlul sunnah
wal jamaah (muslim sunni)
Sasaran para pelaku bukan saja Ustad
Tajul Muluk (pemimpin muslim Syiah di Nangkernang), tapi juga meluas ke
warga lain yang dinilai pengikut muslim syiah. Sejak bulan ramadhan dan
saat ramadhan (sekitar bulan Juni dan Agustus 2012), para pelaku telah
menebarkan ancaman dengan mengatakan akan menghabisi dan ‘menyembelih’
warga muslim syiah jika tetap berada di dusun Nangkareng seusai ramadhanPada tanggal 23 agustus 2012, pelaku melakukan sweeping terhadap muslim syiah yang akan keluar kampung, termasuk para santri-santri warga syiah yang hendak kembali ke pondok pesantren mereka yang berada diluar Kota Sampang. Kejadian ini telah dilaporkan kepada aparat kepolisian, namun tidak ada tindak lanjut.
Pada tanggal 26 Agustus 2012, sekitar pukul 08.00 Wib, ratusan massa (diperkirakan 500 orang) membawa senjata tajam berupa; celurit, pedang dan pentungan serta bom molotov telah berkumpul di kampung Nangkernang.
Untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan, Iklil (abang kandung Ustad Tajul Muluk) melaporkan ke pihak kepolisian Polsek Omben dan Polres Sampang melalui telepon selulernya. Pihak kepolisian menanggapi laporan Iklil dengan mengirim 5 orang personil ke lokasi. Pada pukul 11.00 WIB, pelaku yang telah berkumpul mulai menghadang anak-anak muslim syiah yang mau kembali ke pesantren mereka di luar kota Sampang.
Para laki-laki dewasa muslim syiah berusaha melindungi anak-anak dan istri mereka. Pelaku terus menyerang dengan lemparan batu, bom molotov, dan menikam dengan senjata tajam. Akibat penyerangan tersebut, satu orang bernama Hamama (50 th) tewas, tujuh orang menderita luka kritis, serta puluhan orang mengalami luka-luka.
Pelaku juga merusak dan membakar rumah warga muslim syiah, tercatat 40 rumah warga dibakar dan dirusak, termasuk rumah Ustad Tajul Muluk yang sebelumnya pernah dibakar oleh pelaku yang sama.
Para pelaku terus meluaskan serangan meskipun aparat kepolisian dan satuan Brimob telah berada di lokasi kejadian. Warga, terutama perempuan dan anak-anak mengalami trauma dan mengungsi ke GOR. Berdasarkan informasi, saat ini tercatat 53 anak-anak, 29 remaja dan 83 orang dewasa berada di lokasi pengungsian.
Langganan:
Postingan (Atom)