Minggu, 05 Agustus 2012

Konsultan Politik di Balik Kejayaan Jokowi-Ahok


Palmerah, Wartakotalive.com

Tanpa diduga, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok, berhasil meraih suara terbanyak dalam putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Kemenangan Jokowi terbilang mengejutkan karena selama ini hasil survei selalu menempatkan kandidat nomor urut 3 itu di posisi kedua setelah Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Apa rahasia di balik kesuksesan Jokowi-Ahok? Kedua kandidat dengan latar belakang berbeda itu sengaja menyewa jasa konsultan politik dalam menyiapkan strategi kampanye. Salah satunya adalah Cyrus Network.

Direktur Eksekutif Cyrus Network, Hasan Nasbi, mengatakan, kekuatan kampanye Jokowi-Ahok ada pada "serangan darat". Serangan darat merujuk pada taktik kampanye yang langsung bertemu dengan pemilih melalui jaringan-jaringan yang dimiliki Jokowi-Ahok. "Kami menamakan para pejuang di serangan darat ini sebagai pasukan infanteri. Sudah 15.000 relawan yang kami latih untuk menyosialisasikan program Jokowi-Ahok," kata Hasan, Jumat (13/7), saat dihubungi wartawan.

Dia menjelaskan, sebanyak 15.000 relawan itu dilatih dalam mempresentasikan program-program Jokowi dengan cara yang lebih dekat kepada pemilih. Setiap relawan bertanggung jawab pada 100-150 rumah di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Semua relawan di sebar ke setiap wilayah di Jakarta. "Tidak ada pengonsentrasian wilayah karena kami pikir Jakarta itu harus sapu bersih semua wilayah," ujar Hasan.

Relawan-relawan yang dimiliki Jokowi-Ahok juga terbilang kreatif karena diisi anak-anak muda. Mereka sendiri yang berniat bergabung untuk sekadar membantu penjualan baju kotak-kotak khas Jokowi hingga membantu media sosialisasi.

Hasan menilai, kampanye dalam bentuk serangan udara, seperti spanduk, baliho, hingga iklan di media massa, sebenarnya hanya untuk formalitas. Kekuatan utama dari Jokowi bukan terletak pada iklan-iklan tersebut. "Di iklan, Jokowi tidak bisa menampilkan program-programnya secara lengkap, tetapi melalui pasukan infanteri itu bisa disebarkan visi-misi secara lengkap," pungkas Hasan.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, Pilkada DKI Jakarta dipastikan akan berlangsung dua putaran karena tidak ada calon yang berhasil meraih 50 persen + 1 suara. Pada putaran pertama, dua pasangan calon yang lolos ke putaran berikutnya adalah Jokowi-Ahok dengan 42,59 persen suara dan Foke-Nara dengan 34,32 persen suara.

Perolehan suara selanjutnya diikuti oleh Hidayat-Didik dengan 11,4 persen, Faisal-Biem 5,07 persen, Alex-Nono 4,74 persen, dan Hendardji-Riza 1,88 persen.

KOMPAS.COM

Sabtu, 04 Agustus 2012

Bergabung dengan Intrepid, Surya Paloh Hadapi Lawan Tangguh (2)

Helena Tan
Edwin Soeryadjaya (Forbes.com)
Edwin Soeryadjaya (Forbes.com)
Sebelumnya Intrepid bermitra dengan seorang wanita pengusaha Indonesia yang bermukim di Jakarta, bernama  Maya Miranda Ambarsari dan suaminya Andreas Reza Nazaruddin.
JAKARTA, Jaringnews.com - Kehadiran Surya Paloh sebagai salah satu pemegang saham Intrepid Mining Limited membawa konsekuensi ia menjadi andalan perusahaan Australia itu berhadapan dengan mitra lokalnya yang kini jadi seterunya: PT Indo Multi Niaga (IMN). Menurut penelusuran Intrepid, salah satu pemegang saham baru PT IMN mempunyai keterkaitan dengan perusahaan yang masih berhubungan dengan kelompok bisnis keluarga Soeryadjaya.

Bagaimana hubungan keluarga Soeryadjaya dengan PT IMN?

Dalam sebuah pernyataannya kepada bursa saham Australia, Intrepid menyebutkan pemegang saham IMN yang diyakini menguasai 80 persen saham perusahaan itu adalah PT Cinta Kasih Abadi, PT Selaras Karya Indonesia, Andreas Tjahjadi dan Rahmad Deswandy.

Andreas Tjahjadi yang menjadi presiden komisaris pada IMN, adalah juga direktur non-eksekutif pada Seroja Investment, sebuah perusahaan berbasis di Singapura yang menangani pengangkutan batubara produksi Adaro ke pelabuhan. Selain Andreas, direktur lainnya pada Seroja Investment adalah Edwin Soeryadjaya, presiden komisaris Adaro Energy. Hubungan kolegial inilah tampaknya yang dijadikan dasar bahwa ada keterkaitan antara IMN dengan keluarga Soeryadjaya.

Sebetulnya, memburuknya hubungan Intrepid dengan mitra lokalnya, IMN, sangat disayangkan oleh Intrepid sendiri. Colin Jackson, chairman perusahaan tersebut mengatakan sama sekali tidak habis pikir mengapa terjadi pergantian pemegang saham mendadak di PT IMN.

Pemegang saham PT IMN sebelumnya adalah seorang wanita pengusaha Indonesia yang bermukim di Jakarta, bernama Maya Miranda Ambarsari dan suaminya Andreas Reza Nazaruddin.

Intrepid dan IMN telah menandatangani perjanjian joint venture (usaha patungan) yang memungkinkan Intrepid memiliki partisipasi ekonomi sebesar 80 persen modal pada proyek Tujuh Bukit dan nantinya akan dikonversikan menjadi kepemilikan atas IMN. Intrepid mengatakan sejauh ini mereka telah mengeluarkan investasi mencapai US$ 100 juta.

Relasi Intrepid dengan mitra lokalnya itu mulai memburuk setelah pada Juni lalu mereka mengingatkan Maya dan suaminya agar menghormati perjanjian yang telah mereka setujui. Intrepid mendesak mitra lokalnya agar segera mengubah status perusahaan menjadi PMA, sehingga kepemilikan Intrepid bisa dikonversi menjadi 80 persen saham. Sejak itu, komunikasi kedua belah pihak menjadi terputus.

Informasi lain menyatakan, sengketa atas pertambangan ini muncul karena pemerintah Banyuwangi menuding IMN menjual saham ke Intrepid tanpa izin Pemda. Pemda berpendapat menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, perusahaan dilarang mengalihkan sahamnya ke perusahaan asing tanpa rekomendasi dari pemerintah.

Mampukah Surya Paloh menengahi permasalahan ini, atau justru masalahnya akan bertambah buruk? Ini akan terjawab pada beberapa waktu mendatang.
(Hal / Nky)

Rabu, 01 Agustus 2012

Dipecat, Kader Nasdem Siap Melawan

     
                                 Arfi Bambani Amri, Bobby Andalan 
Rabu, 1 Agustus 2012
VIVAnews - Ketua Garda Wanita (Garnita) Malahayati NasDem Bali, Putu Suprapti Santy Sastra, dinonaktifkan partainya. Posisinya digantikan kader perempuan lain yang sudah dilantik oleh Ketua Umum Partai NasDem, Patrice Rio Capella.

Santy Sastra berjanji akan melakukan perlawanan atas keputusan penonaktifan dirinya itu. "Saya merasa sudah diperlakukan secara tidak adil oleh Nasdem," ungkap Santy, Rabu 31 Juli 2012.

Langkah yang dilakukan Santy adalah menggalang kekuatan untuk melawan kebijakan Partai NasDem, yang disebutnya nonprosedural. Ia kemudian menjelaskan awal mula dirinya bergabung dengan Ormas NasDem, hingga akhirnya ada upaya untuk menyingkirkannya dari partai baru itu.

"Sebelum ormas ini dibentuk di Bali tahun 2011, saya termasuk deklarator Ormas NasDem. Boleh dibilang, saya termasuk satu-satunya perempuan yang pada waktu itu menonjol," ucapnya.

Dalam perjalanan Ormas NasDem, ada gerakan untuk membentuk Partai NasDem. Sekitar April 2011, Santy Sastra dipercayakan untuk menjadi Ketua DPD Partai NasDem Kota Denpasar, dengan Surat Keputusan (SK) yang sah. "Saya pun langsung bergerak, dan membentuk kepengurusan sampai ke tingkat kecamatan. Saya juga mengumpulkan 2.000 KTA bersama pengurus yang saya bentuk," jelasnya.

Selanjutnya pada Mei 2011, Santy Sastra mendapatkan mandat untuk membentuk Garda Wanita (Garnita) Malahayati NasDem Bali. Ia kemudian didaulat untuk duduk sebagai Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem Bali dan dilantik secara resmi oleh Ketua Umum Garnita Malahayati NasDem Irma S Chaniago, pada 30 Oktober 2011.

"Waktu pembentukan Garnita Malahayati Bali ini saya menggunakan naluri wanita. Saya minta tolong sama Gus Oka (Ketua DPW Partai Nasdem Bali Ida Bagus Oka Gunastawa) untuk memasukkan orang-orangnya dalam struktur. Istrinya (Ida Ayu Danik Suardhani) bahkan saya posisikan sebagai Sekretaris DPW Garnita Malahayati Nasdem Bali," tutur Santy Sastra.

Hanya saja, menurut dia, mereka yang diakomodir dalam kepengurusannya ini pada akhirnya dimanfaatkan untuk membangun gerakan guna menyingkirkannya. Buktinya pada April 2012, Santy Sastra dipanggil dan diberi pilihan oleh Gus Oka. "Saya dibuat seperti anak kecil yang diiming-imingi dan disuruh memilih, karena katanya tidak boleh rangkap jabatan. Jadi saya harus memilih antara Garnita dan Partai Nasdem. Saat itu, saya pilih Garnita dan lepas Partai Nasdem begitu saja," ujarnya.

Selanjutnya Juli 2012, kata Santy Sastra, Sekretaris DPW Partai NasDem Bali, Adi Saputra, menjanjikannya untuk bergabung dalam kepengurusan partai. "Tetapi saya diberi syarat, yakni harus meletakkan jabatan sebagai Ketua DPW Garnita Malahayati Nasdem," kata Santy.

Dia pun menolak. "Saya berpikir, keledai saja tidak mau jatuh kedua kalinya. Orang bodoh juga pasti akan mengerti bahwa ada permainan di sini." Sebab, bukan hanya Santy saja yang diminta untuk menanggalkan jabatan, namun pengurus yang dibentuknya juga dibubarkan.

"Saya sudah bentuk empat DPD Garnita, yakni Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar. Itu sebabnya saya bersama pengurus menolak untuk bubar dan tetap bertahan," kata Santy Sastra.

Pilihan untuk bertahan ini dilakukan Santy Sastra, juga setelah berkoordinasi dengan Ketua Umum Garnita Malahayati NasDem Irma S Chaniago. "Dia sampaikan bahwa jangan mau menyerah dan harus dilawan. Apalagi saya juga sudah melakukan banyak kegiatan selama memimpin Garnita Malahayati NasDem Bali," katanya.

Namun di tengah upaya untuk bertahan dan melakukan perlawanan ini, Santy Sastra kembali diberikan kejutan. Ia diberikan kabar bahwa kepengurusan yang sudah dibentuknya sudah dibubarkan. Pengurus baru Garnita Malahayati dan Garda Pemuda NasDem Bali yang baru pun sudah dilantik oleh Ketua Umum DPP Partai Nasdem Rio Capella, pada saat Rakorwil DPW Partai Nasdem Bali, 25 Juli 2012.

"Terus terang kalau menuruti kata hati saya, sebetulnya saya ingin lepas. Tetapi saya mendapat dukungan dari pengurus yang saya bentuk, KPPI dan juga teman-teman LSM. Mereka tidak mau perempuan dianiaya, apalagi saya masih pegang SK dari pusat. Jadi saya tetap bertahan. Saya tetap pertahankan kepemimpinan saya, ini sampai benar-benar ada pencabutan sesuai prosedur organisasi yang sah," katanya,

Santy Sastra merasa kecewa, karena ia menilai ada intervensi, campur tangan dan arogansi partai terhadap organisasi sayap di Nasdem. Ia juga menyayangkan pihak-pihak yang menyebut bahwa dirinya telah mundur dari Nasdem.

"Jadi tidak benar kalau dibilang saya mundur. Justru mereka yang meminta saya untuk melepas jabatan. Saya tidak butuh Nasdem. Tetapi saya tidak mau dibengkokkan. Lebih baik patah daripada bengkok. Harga diri masalahnya," katanya.

Nasdem: Sesuai Prosedur


Sebelumnya, Sekretaris DPW Partai NasDem Bali, Ida Bagus Adi Saputra, menyampaikan, pemberhentian Santy Sastra berdasarkan hasil evaluasi serta melalui rapat dan diskusi yang matang. Evaluasi yang dilakukan DPW Partai NasDem Bali tersebut, kata dia, telah dikonsultasikan dengan Dewan Pembina Partai NasDem Bali. "Jadi dengan demikian, pemberhentian Ibu Santy dari Ketua Garnita Malahayati Nasdem Bali sudah sah. Itu sudah melalui mekanisme yang benar," ujar Adi Saputra, Selasa 31 Juli 2012 malam.

Ia menjelaskan, setelah menonaktifkan Santy Sastra, telah ditunjuk Luciana Ayu Sukmawati sebagai Ketua DPW Garnita Malahayati NasDem Bali. "Ibu Luci bersama kepengurusannya telah dilantik oleh Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella, pada 27 Juli 2012," ujar Adi Saputra.

Ia membantah keras sinyalemen yang menyebutkan bahwa penonaktifan Santy Sastra dilakukan tanpa melalui mekanisme, apalagi disebut penuh rekayasa serta intrik politik. "Tidak ada rekayasa, apalagi ada intrik politik untuk mendepak Ibu Santy. Semua sudah dilakukan sesuai mekanisme yang benar dalam organisasi," katanya.

© VIVA.co.id   |   Share :  

Kemahiran menulis