Senin, 02 Juli 2012

Makin Dikenal, NasDem Harus Jauhi Konflik Internal


JAKARTA - Ibarat baru seumur jagung berdiri, Partai Nasional Demokrat (NasDem) mulai di landa persoalan internal. Dikabarkan bahwa kini terjadi pertarungan internal antara kelompok senior di NasDem dengan wajah-wajah muda yang baru belakangan masuk.


Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens yang mengungkapkan, popularitas NasDem yang kian terkerek belakangan ini memang menjadi daya tarik tersendiri. Namun di balik polulatitas itu pula mulai memunculkan benih-benih persoalan internal.

Saya dengar kelompok orang tua yang dulu tidak bersedia NasDem berubah dari ormas menjadi parpol, kini justru mendesak Surya Paloh (Ketua Majelis Nasional NasDem) untuk mengganti semua kepengurusan partai saat ini, kata Boni di Jakarta, Kamis (28/6).

Menurut Boni, desakan penggantian kepengurusan itu didasari anggapan bahwa para pengurus teras NasDem saat ini justru diisi figur-figur yang tak dikenal publik. Padahal, kata Boni, pengurus NasDem justru banyak berasal dari aktivis lapangan yang memiliki jaringan meski tidak terkenal.

Boni pun menyayangkan jika pertarungan internal di NasDem itu hanya karena alasan itu. Sebab menurutnya, NasDem sudah mulai berhasil mencitrakan diri sebagai partai baru pengusung perubahan sekaligus menjadi organisasi yang dinamis, moderat, inovatif dan memberi kesempatan kepada kalangan muda untuk tampil.

Ditegaskannya pula bahwa desakan kelompok tua untuk merombak kepengurusan Partai NasDem saat ini bisa-bisa malah menggerogoti dukungan pemilih. NasDem harus tetap konsisten dengan kepemimpinan muda. Kalau pengurus diganti dengan wajah tua, malah menjadi kontraproduktif dan tidak sesuai dengan semangat awal NasDem, ulasnya.

Pengamat dari Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti juga melontarkan pendapat senada. Menurutnya, NasDem memamg semakin memikat banyak kalangan. Namun demikian, katanya, para senior pendiri juga harus sadar tentang perlunya mesin partai digerakkan oleh kalangan muda.

Jika mereka diganti dengan mesin tua, kemampuan penetrasi tidak akan seperti sekarang ini. Aneh kalau ada desakan seperi itu (pergantian kepengurusan), ucapnya.(jpnn)

Boni Hargens: Nasdem Harus Konsisten Sebagai Partai Kaum Muda

 Laporan: Ade Mulyana

RMOL. Di balik grafik popularitas  yang terus meningkat, Partai Nasdem dilanda kisruh internal. Kelompok orang tua yang dulu tidak bersedia Nasdem berubah dari ormas menjadi parpol, kini mendesak Ketua Majelis Partai Nasdem Surya Palloh mengganti semua kepengurusan partai sekarang. Alasannya, fungsionaris Nasdem sekarang bukan figur yang dikenal publik. Mereka hanyalah aktivis lapangan yang tidak dikenal oleh masyarakat luas.

Menurut pengamat politik dari UI, Boni Hargens, pendapat seperti itu sebagai hal yang wajar tetapi tidak berarti bisa dibenarkan begitu saja. Sebagai partai alternatif, partai yang ingin membangun tradisi politik baru di Indonesia sesuai dengan semangat kaum muda yang dinamis, moderat, proaktif, dan inovatif, kata dia, Nasdem mesti konsisten dengan kepemimpinan muda.

"Kalau pengurus diganti dengan wajah tua, malah menjadi kontraproduktif. Tidak sesuai dengan semangat awal Nasdem," jelas dia kepada Rakyat Merdeka Online sesaat tadi (Rabu, 27/6).

Kalau itu terjadi, menurutnya, publik akan melihat partai Nasdem sama seperti partai lain, dan hanya ingin mendaur ulang pola politik lama yang berciri basa-basi.  Yang dibutuhkan dalam membangun partai, katanya mengingatkan, sebetulnya bukan figur dengan popularitas tinggi, tetapi kader yang bekerja keras di lapangan, yang bisa menangkap aspirasi masyarakat dan merespons melalui  kerja nyata dengan berlandaskan pada ideologi partai.

"Mengubah  ideologi menjadi misi, menjadi tugas, menjadi tanggungjawab konkrit adalah tugas dasar pengurus partai. Maka, popularitas tidak begitu penting," bebernya.

Diingatkan dia lagi, persoalan kita memang terlanjur mengamalkan model demokrasi yang terjebak pada pasar yang mementingkan aspek visual dan popuaritas, bukan aspek kualitas atau kompetensi.

"Nasdem tidak perlu terjebak pada demokrasi pasar ini, kalau memang benar tujuan partai adalah membangun demokrasi Indonesia yang berorientasi pada perubahan mutu hidup rakyat banyak," tandasnya.[dem]

Partai NasDem Siap Tampung JK

 
Polhukam / Minggu, 1 Juli 2012 18:02 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Partai Nasional Demokrat siap mengakomodasi kader Partai Golkar yang memiliki sikap politik berseberangan dengan keputusan Rapat Pimpinan Nasional kemarin. Salah satu hasil Rapimnas berbunyi, Golkar akan memecat kader yang menjadi calon presiden dari partai lain.

“Tidak menutup kemungkinan Partai NasDem akan melirik kader Partai Golkar termasuk Jusuf Kalla (JK) dan lainnya. Sehingga dari sekarang, Partai NasDem akan mencermati, memantau, dan menganalisa perkembangan yang terjadi baik dari Partai Golkar maupun partai lain,” ungkap Ketua Umum Partai NasDem Patrice Rio Capella di Jakarta pada MediaIndonesia.com, Ahad (1/7).

“Bagaimana jika suara Partai Golkar kurang dari presidential threshold (ambang batas pengajuan capres) sehingga membutuhkan dukungan partai lain? Begitu juga kalau ternyata tokoh Golkar seperti JK tidak dapat mencalonkan dari partai lain? Akibatnya, tidak ada capres atau wapres dari Golkar," tambahnya.

Menurut Patrice, penutupan peluang bagi calon lain sebagai capres rentan membuat Partai Golkar terpecah. Rio menamakan politik semacam ini dengan 'kodok lompat.'

“Menginjak ke bawah untuk melompat ke atas. Artinya, memuluskan langkah Aburizal Bakrie atau Ical menjadi capres dengan menekan para kader untuk tidak muncul dan bersaing. Harus diakui keputusan itu tidak etis, mematikan potensi anak bangsa yang berbakti di Partai Golkar," ujar Patrice.(MI/wtr6)

HOTEL PAPANDAYAN—Eks Pekerja, Tagih Janji Surya Paloh

MAKASSAR—Serikat Pekerja Mandiri Hotel Papandayan Bandung mendesak pihak pengusaha khususnya Surya Paloh sebagai pemilik untuk patuh terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi dengan mempekerjakan 38 pekerja hotel tersebut. Dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Saiful Busroni sebagai Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Asep Ruhiyat sebagai Ketua Serikat Pekerja Mandiri Hotel Papandayan mengatakan pengusaha mesti tunduk terhadap Putusan MK tersebut. “Kami meminta kepada Surya Paloh untuk mengambilalih sengketa perburuhan di Hotel Papandayan dan menyelesaikannya secara musyawarah sehingga memperoleh solusi terbaik,” tulis keduanya dalam rilis tersebut, Kamis (28/6). Keduanya menegaskan langkah tuntutan tersebut merupakan ujian sesungguhnya sebelum Surya Paloh menjadi pemimpin yang layak untuk orang banyak dan tidak menjadi penipu sebagaimana orasi-nya di setiap acara ormas Nasional Demokrat. Desakan itu menyusul dikabulkannya permohonan pengujian UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan (Pasal 164 ayat 3) dengan nomor perkara 19/PUU-IX/2011 oleh Mahkamah Konstitusi pada 20 Juni 2012. Menurut mereka, Pasal 164 ayat 3 UU tersebut dijadikan dasar oleh pengusaha untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) meski perusahaan tidak tutup dan semata karena melakukan renovasi yang dapat diperkirakan jangka waktunya. Renovasi, menurut mereka, bukan bentuk dari penutupan perusahaan karena tujuan renovasi adalah untuk meningkatkan fasilitas dan akan dibuka kembali. Hal lain, tidak adanya pembubaran perseroan sebagaimana UU Perseroan Terbatas No.40/2007. “Renovasi di Hotel Papandayan Bandung bukanlah disebabkan perusahaan tutup. Renovasi dilakukan karena secara financial. Pengusaha telah memiliki cadangan dana yang cukup dan telah direncanakan sebelumnya,” tulis mereka. Hal itu, kata mereka, tidak lepas dari terus meningkatnya pendapatan pengusaha dan tidak memiliki hutang atau pinjaman apapun pada pihak ketiga. Keduanya mengatakan telah terbukti renovasi Hotel Papandayan hanya berlangsung singkat dan hotel tersebut tempat pemohon (yakni para pekerja) telah dibuka kembali pada 12 Maret 2011. Akan tetapi pemohon telah kehilangan pekerjaan dan masa depan untuk menghidupi keluarga.