Minggu, 30 September 2012

KRI Klewang 625: KCR Trimaran Siluman Buatan Indonesia


Pada pukul 12.18 WIB, Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran KRI Klewang 625 yang merupakan kapal siluman pertama di dunia, secara resmi diluncurkan dari galangan kapal PT Lundin Industry Invest di Selat Bali, Banyuwangi, Jawa Timur pada 31 Agustus 2012.
Kapal yang memiliki panjang 63 meter ini menggabungkan sejumlah kecanggihan teknologi sehingga memiliki berbagai keunggulan dan diklaim sebagai kapal perang tercanggih di dunia karena sulit terdeteksi oleh radar. KRI Klewang akan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI Angkatan Laut.
Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama, Sayid Anwar, mengatakan bahwa peluncuran KRI Klewang merupakan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia karena merupakan kapal jenis combatan yang sulit dideteksi oleh radar karena dibuat dari bahan komposit yang ringan sehingga memiliki kecepatan sampai 35 knot.
“KRI Klewang ini sangat ringan sehingga memiliki kecepatan yang cocok untuk misi rahasia dan tempur,” ujarnya.
KCR Trimaran merupakan kapal perang tercanggih yang dikembangkan sejak tahun 2009 oleh TNI AL dan PT Lundin, akan dilengkapi  rudal jarak tembak 120 km membuat kapal ini menjadi kapal perang kebanggaan Indonesia.
“Kapal ini akan dilengkapi 4 rudal jenis C 705 produksi China dan perlengkapan canggih lainnya,” tambah Sayid.
KRI Klewang tersebut akan diawaki oleh 27 ABK tersebut rencananya akan memperkuat Armatim TNI AL di Surabaya.

KCR Trimaran Klewang di indonesiaproud wordpress com
Produksi Banyuwangi
KRI Klewang diproduksi di Banyuwangi. Pemilik PT Lundin Industry Invest, Lizza Lundin, mengatakan Banyuwangi dipilih sebagai tempat produksi kapal karena ingin membangun kampung halamannya itu. “Saya orang Banyuwangi. Lokasi ini sangat baik untuk riset pembuatan kapal,” kata Lizza.
Bentuk kapal cukup unik. Ini merupakan hasil kolaborasi riset desain dan pengembangan antara PT Lundin dengan arsitek kapal dari Selandia Baru selama 2 tahun. Kapal ini memiliki stabilitas amat baik. Rancangan lambung dibuat dangkal dan didesain untuk bisa berpatroli di pesisir yang panjang.
Bentuk lambung kapal dirancang sedemikian rupa agar kapal dapat melaju dengan kecepatan tinggi namun tetap memperhatikan kemampuan kru. Kapal dapat beroperasi di laut curam dan pendek yang merupakan karakterisktik garis pantai di kepulauan Indonesia.
Kontruksi kapal menawarkan beberapa keunggulan, yakni  lebih ringan, efisien biaya perawatan, kemampuan tidak terdeteksi oleh radar, tingkat akurasi geometris yang tinggi, tidak mengandung unsur magnet, tingkat deteksi panas, dan suara yang rendah.
KRI Klewang juga menyediakan ruang akomodasi untuk 29 kru kapal pada 3 lantai dek. Kapal dilengkapi fasilitas dan peralatan untuk penerjunan pasukan khusus. Kapal juga dipersenjatai berbagai tipe sistem rudal. Rudal dilengkapi sensor yang dapat ditempatkan di bagian tertinggi atas dek kapal. Ini memberikan kemampuan penglihatan penembakan yang sangat baik. Kesemua hal itu tidak mengurangi stabilitas kapal.
PT Lundin Industry Invest mengaku belum menemukan kendala dalam produksi kapal. Lizza mengaku memperoleh kemudahan dari pemerintah dalam produksi kapal. KRI Klewang masih mengalami pengembangan dan akan dioperasikan pada 2013 mendatang.
lihat juga trimaran: kapal cepat rudal buatan indonesia
KRI Klewang Trimaran di indonesiaproud wordpress com
Sumber: rri.co.id, indo-defense.blogspot.com, metrotvnews.com



Kamis, 27 September 2012

Pelita Hati - INDONESIA SARANG TERORIS?

FS Swantoro

Ketika Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, menyatakan, “Indonesia sarang teroris” tahun 2001, banyak politisi kita dan tokoh muslim yang tersinggung. Bahkan Wakil Presiden, Hamzah Haz waktu itu, dengan nada berang meminta agar Perdana Menteri Lee Kuan Yew, “tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.”
Namun seiring perjalanan waktu, dari tahun 2000 hingga tahun 2012, marak aksi teror di Indonesia, yang dilakukan para teroris hingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Beberapa di antara mereka anggota jaringan al-Qaeda, pimpinan Osama Bin Laden. Berikut beberapa aksi teror yang dilakukan teroris, seperti; aksi bom di Kedubes Pilipina dan Bom di Bursa Efek, Jakarta, serta Bom Natal (Agustus-Desember 2000); Bom di Gereja Santa Anna, Duren Sawit dan di Atrium Senen, Jakarta (Juli-September 2001); Bom Bali I (Oktober 2002); Bom di Mabes Polri dan Bandara Soekarno Hatta (Pebruari-April 2003); Bom di Kedubes Australia (September 2004); Bom Bali II dan bom di Pasar Palu (Oktober-Nopember 2005); Bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton (Juli 2009); Penembakan tak dikenal di Aceh dan perampokan Bank CIMB, Medan, Sumatera Utara (Januari-September 2010); serta bom di Polresta, Cirebon (April 2011).
Selain itu aksi teror mutakhir, penembakan terhadap polisi di Pos Polisi Singosaren, Solo, Jawa Tengah (30/8/2012). Dua minggu sebelumnya terjadi penembakan terhadap Pos Pengaman Polisi di Gemblekan Solo, hingga menimbulkan dua Briptu Polisi terluka. Pelaku diduga telah mempersiapkan target pos polisi untuk diserang. Sasaran teroris dalam penembakan polisi di Solo, Jawa Tengah, adalah untuk membuat polisi takut. Aksi teroris itu telah dirancang sejak tahun 2007, hingga teroris bisa mengkondisikan konflik dan suasana mencekam muncul di Solo, seperti konflik di Ambon dan Poso tahun 2000-2004. Sesudah itu, mereka berharap agar Syariat Islam bisa ditegakkan dan khilafah Islamiyah dapat berdiri.
Jaringan teroris di Indonesia kini telah melakukan perombakan besar-besaran. Agar sulit dideteksi, mereka bermetamorfosa, mengubah pola gerakan dan strateginya. Salah satu bentuknya dengan memecah kelompok mereka menjadi kelompok kecil. Selain itu, mereka menggeser gerakan dan pelatihan jaringannya ke sejumlah provinsi.
Menurut Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Dr. Petrus Reinhard Golose (2012),  dari pemetaan yang dilakukan BNPT, berbagai gerakan jaringan terorisme kini tidak berpusat hanya di Solo. Tetapi sudah menyebar ke wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Sulsel dan Sulteng. Sementara di Sumatera Utara, dijadikan wilayah pengumpul dana untuk aksi terror mereka.
Solo menjadi pusat jaringan terorisme, karena banyak alumni pondok pesantren Ngruki Sukoharjo. Jaringan mereka telah bermetamorfosa dari kelompok besar jadi kelompok kecil. Namun sasarannya masih Pulau Dewata, Bali. Eksistensi terorisme di Solo terakhir terlihat ketika bom bunuh diri Achmad Yosepa Hayat di Gereja Bethel, Kepunton, September 2011. Aksi itu terjadi karena ada dukungan jaringan teroris dari Cirebon.
Banyak anggota teroris Indonesia berasal dari kelompok Islam Radikal Jamaah Islamiah (JI). Para anggota JI, awalnya ditemukan Abdullah Sungkar di Malaysia, lalu dilanjutkan Abu Bakar Basyir. Tujuannya ingin menerapkan syariah Islam dan membentuk Greater Islamic State. Target JI adalah : (1) tempat beribadat, gedung, kedutaan asing; (2) ada target lembut; tempat publik, pusat belanja, hotel, kelab malam, dan gedung kedutaan asing utamanya yang ada koneksitas AS; (3) kelompok lain dengan alasan individu atau bangunan dengan balas dendam berkenaan dengan keluhan individu.
Gerakan teroris yang telah melaksanakan banyak aktivitas di Indonesia adalah anggota JI yang dipimpin Abu Bakar Basyir. Untuk strategi mereka, JI membagi wilayah kerja  ke dalam empat bidang (Mantiki): (1) Mantiqi Ula/I: Singapura perlindungan wilayah ekonomi dan Malaysia. Pemimpin pembentuk adalah HAMBALI dan lalu diubah ke MUKLAS; (2) Mantiqi Sani/II: Konflik Area perlindungan bagian dari Indonesia dipimpin ABU IRSYAD; (3) Mantiqi Thalid/III: Pelatihan Area perlindungan Pilipina Selatan di Mindanau dipimpin oleh MOHNASIR; (4) Mantiqi Ukhro/IV perlindungan Australia, dipimpin ABD ROHMI AYUB. Setiap Mantiqi dibagi menjadi Wakalah. Setiap Wakalah mensupervisi Chatibah Qirdas dan Setiap Chatibah Qirdas mensupervisi Fiah. Untuk menyelesaikan pembagian kerja, aktivitas teroris mulai: Perencana Strategis, Kelayakan Study, Penelitian, Observer, pembuatan target, penyedia logistik, pembuatan bom, dan menyiapkan bomber (sang pengantin).
Penangkapan beberapa tersangka teroris oleh Densus 88 Mabes Polri di Solo dan Depok belangan ini merupakan pertanda bahwa kelompok teroris kecil atau sempalan dari kelompok besar JI masih eksis di Indonesia, meski tokoh seniornya sudah ditangkap atau terbunuh dalam operasi anti teror seperti Amrozi, Muklas, Imam Samudra, Ali Imron, Dr. Azahari, Nurdin M Top, Dul Matin, Umar Patek dan sebagainya.
Seiring waktu, modus yang digunakan jaringan teroris baik dalam menggalang dana maupun mencari anggota baru kini semakin moderen. Hal ini dikarenakan anggotanya berusia muda. Mereka direkrut oleh anggota senior dan dilatih dengan tujuan regenerasi. Regenerasi selalu terjadi. Dalam insiden terorisme, selalu ada yang tidak ditangkap sehingga ancaman terorisme di Indonesia belum pudar. Dari berbagai aksi terror itu, harus diakui bahwa “Indonesia adalah sarang teroris.” Karena itu, sangat dibutuhkan kebijakan nasional terpadu yang implementasinya menuntut kehadiran pemerintah dan pimpinan nasional yang konkrit dan sungguh-sungguh.

Pelita Hati - Memaknai Kunjungan Hillary


Ridho Imawan Hanafi
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton, kembali mengunjungi Indonesia pada 3-4 September 2012. Kunjungan kali ini merupakan yang kedua bagi Hillary sebagai Menlu, setelah kunjungan pertama pada 2009. Sejumlah hal diperbincangkan dalam kunjungan Hillary, seperti persoalan sengketa Laut Cina Selatan, perkembangan Suriah dan juga isu nuklir Iran. Isu “sensitif” seperti renegosiasi kontrak dengan perusahaan tambang Freeport di Papua tak dibahas.
Terkait Laut China Selatan, seperti ditulis Antaranews.com (4/9), Hillary menekankan perlunya pelaksanaan code of conduct (kode tata berperilaku) dan memperingatkan agar jangan sampai ada pihak-pihak yang berusaha untuk meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut dengan mengintimidasi dan mengklaim wilayah secara sepihak. Terkait itu, Hillary memuji upaya Indonesia melalui ASEAN dalam mendorong tercapainya kesepakatan code of conduct di Laut Cina Selatan (Kompas, 5/9).
Bagi AS, kunjungan Hillary ke Indonesia bukan saja sebagai pertemuan bilateral yang sebatas seremonial dua negara karib. Dalam pergaulan kawasan, melalui ASEAN, Indonesia di mata AS memiliki peran yang cukup sentral. Indonesia dilihat AS sebagai negara yang mampu menghadirkan diplomasi damai bagi kawasan Asia Tenggara. Politik luar negeri bebas aktif Indonesia selama ini mampu menghadirkan stabilitas, dan itu menjadi instrumen untuk menghadapi naiknya suhu politik kawasan dengan munculnya sengketa Laut Cina Selatan.
Lalu, apa makna kunjungan Hillary bagi Indonesia sendiri? Selama ini hubungan Indonesia-AS memang akrab. Tetapi apakah keakraban itu sudah mewujud dalam menghadirkan sebuah keuntungan bagi kepentingan nasional? Selama ini, suara-suara inferior selalu muncul jika kita telisik bagaimana jalannya hubungan Indonesia-AS tersebut. Dari hubungan itu yang terbaca adalah bagaimana dominasi kepentingan AS lebih terlihat daripada kepentingan nasional.
Selama ini, isu Freeport seperti dihindari untuk diperbincangkan sebagai menu utama. Padahal isu tersebut banyak berkaitan dengan hajat kebutuhan nasional. Freeport dan juga perusahaaan-perusahaan AS lainnya dinilai telah mengambil keuntungan atas kekayaan alam Indonesia, sementara kemanfaatan bagi kepentingan rakyat Indonesia tidak terlalu jelas. Di Indonesia sendiri, isu tersebut menjadi batu ganjalan setiap kali hubungan Indonesia-AS direkatkan.
Semestinya, kunjungan pejabat sekelas Menlu Hillary Clinton menjadi momentum yang tepat untuk membicarakan kepentingan AS di Indonesia yang terkait langsung dengan kepentingan rakyat Indonesia sendiri. Pembahasan itu akan memberikan arti penting bahwa betapa hubungan bilateral antara kedua negara juga mengucurkan keuntungan positif bagi keduanya. Bukan sebuah keuntungan yang timpang bagi salah satunya. Karena jika ini yang terjadi, bukanlah sebuah hubungan bilateral tetapi sebuah dominasi bilateral.
Dalam upaya seperti itu, sudah sepantasnya jika Indonesia harus menyodorkan apa-apa agenda yang dibahas dalam setiap kali pertemuan bilateral, terutama dengan AS. Jika dicermati, dari isu bilateral, regional, maupun global yang dibicarakan pada waktu kunjungan Hillary kali ini, maka sedikit sekali yang berhubungan langsung dengan kepentingan rakyat Indonesia. Terkesan bahwa AS lebih siap menyodorkan apa agenda-agendanya daripada Indonesia sendiri. Ini yang kemudian sepertinya kita menjadi tak leluasa terhadap apa yang diinginkan AS, untuk tidak mengatakan agenda yang didesakkan AS.
Oleh karena itu. pada setiap hubungan diplomatik seperti yang dilakukan Indonesia dan AS, hubungan yang sejajar mutlak diperlukan agar tidak terjadi saling dikte. Bagaimanapun Indonesia juga memiliki kepentingan nasional yang harus dijaga sebagai negara berdaulat. Jika hal itu tidak diutamakan, besar kemungkinan kita hanya akan menjadi loudspeaker bagi kepentingan AS.

Pelita Hati - NasDem rekrut caleg secara terbuka

WASPADA ONLINEl

JAKARTA - Partai NasDem mulai menyiapkan langkah-langkah untuk merekrut calon annggota legislatif. Hal itu dilakukan agar Partai NasDem memiliki cukup waktu, karena proses rekrutmen adalah salah satu fungsi penting Parpol dalam membenahi neegeri ini.

Hal itu dikatakan Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan dalam keterangan pers yang diterima wartawan, hari ini.

"NasDem ingin proses rekrutmen yang diberi kewenangan kepada kepada Parpol tidak dipersepsi dan dipahami sekedar untuk menempatkan figur kenalan, punya hubungan, bahkan figur yang hanya mampu memberi imbalan pada pengurus partai untuk menjadi caleg," tegas Ferry.

Apa yang terjadi di Pemilu Kada DKI Jakarta dengan kemenangan Joko Widodo, ujar Ferry, seharusnya menyadarkan dan mengajarkan partai politik yang ada bahwa kepercayaan masyarakat adalah hal yang sangat penting. "Karenanya, Partai NasDem dalam melakukan rekrutmen calon untuk mengisi

lembaga Legislatif dan untuk menemukan figur2 berkualitas dan berintegritas ditempuh dengan mekanisme terbuka, talent scouting dan yang nondiskriminatif," jelasnya.

Mekanisme terbuka, imbuh Ferry, ditempuh karena Partai NasDem tidak ingin keberadaan partai justru menjadi penghalang bagi bergabungnya anak-anak negeri yang berkualitas. Mekanisme perekrutan juga tidak boleh menjadikan terciptanya eksklusifisme dalam proses perekrutan.

Pola talent scoutingdilakukan untuk menegaskan besarnya keinginan Partai NasDem untuk menemukan figur berkualitasn dan berintergritas. Adapun mekanisme nondiskriminasi bertujuan untuk memunculkans emangat terbiasa dan mau menerima keberagaman yang ada.

"Sebagai partai yang mengusung tag-line Perubahan maka NasDem memulai pada dirinya untuk tidak membiarkan keberagaman dan keberbedaan menjadi sekat politik yang dikembangkan. Bagi NasDem, perbedaan ras, suku, agama, latar belakang sosial dan pendidikan bukanlah sesuatu yang harus didikotomikan apalagi dibenturkan," pungkasnya.
(dat18/mediaindonesia)

Selasa, 25 September 2012

Pelita Hati - 5 Jam Bersama Megawati Di Hari Kemenangan Jokowi Jadi DKI 1

INDONESIA KATAKAMI 

Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) mendampingi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (tengah), Ketua F-PDIP DPR, Puan Maharani (keempat kanan) dan Ketua MPR Taufik Kiemas (ketiga kanan) sebelum memberikan hak pilih pada pencoblosan Pilgub DKI Jakarta putaran kedua di TPS 31 Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012). FOTO ANTARA/M Agung Rajasa/mes/12

EKSKLUSIF
Oleh : Mega Simarmata, Editor-in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, 21 September 2012 (KATAKAMI.COM)   —  Ratusan wartawan dari media cetak dan elektronik ( dalam dan luar negeri ) sudah menunggu di depan kediaman pribadi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan sejak pagi hari kemarin, Kamis (20/9/2012) di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan.
Kedatangan ratusan media ke sana tentu dalam rangka meliput putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, khususnya untuk meliput pencoblosan yang dilakukan oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang didampingi suami tercinta, Taufiq Kiemas, serta semua anak dan menantu.
Sang Calon Gubernur yang diusung PDI Perjuangan, Joko Widodo atau Jokowi, ikut mendampingi Megawati sekeluarga mencoblos.
Beruntunglah saya, menjadi satu-satunya jurnalis yang diizinkan berada di tengah keluarga Taufiq Kiemas – Megawati Soekarnoputri sejak awal hingga akhir acara saat hari pencoblosan kemarin.
Ada seorang wartawati lain yang ikut hadir di antara kami dari TEMPO tetapi menjelang siang hari ia pamit pulang untuk melanjutkan tugas peliputannya ke tempat lain.
Saya mengenal Taufiq Kiemas dan Megawati sejak kerusuhan 27 Juli 1996.
Saat kerusuhan 27 Juli terjadi, saya adalah satu-satunya reporter radio yang melaporkan secara langsung kerusuhan itu selama lebih dari 10 jam dan disiarkan di radio tempat saya bekerja saat itu yaitu RADIO RAMAKO.
Dari laporan langsung saya itulah, TK (panggilan Taufiq Kiemas) dan Megawati Soekarnoputri, termasuk juga Almarhum Sophan Sophiaan bisa memantau perkembangan di lokasi kerusuhan yaitu di kantor PDI Jalan Diponegoro Jakarta Pusat.
Persahabatan antara saya dan pasangan Taufiq Kiemas – Megawati Soekarnoputri berlanjut saat putri sulung Bung Karno ini menjadi Wakil Presiden RI ( saat Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke 4 tahun 1999 ).
Sebab, saya yang saat itu bekerja di Radio Trijaya FM, mendapat tugas untuk mulai meliput di Istana Kepresidenan.
Hingga akhirnya, saat Megawati naik menjadi Presiden RI ke 5 tahun 2001, saya masih tetap bertugas sebagai wartawan di Istana Kepresidenan.
Latar belakang saya sebagai satu-satunya reporter radio yang meliput secara langsung kerusuhan 27 Juli itulah yang membuat Taufiq Kiemas dan Megawati menjadi sangat bersahabat hingga saat ini.


Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri seusai mencoblos di TPS 031 pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta di Jakarta, Kamis (20/9/2012). Foto: VIVAnews/Muhamad Solihin.

(EKSKLUSIF)  TAUFIQ KIEMAS : JOKOWI MENANG KARENA MENGUSUNG PANCASILA

” Kamu apa kabarnya ” tanya Megawati saat kami berjabatan-tangan di Kebagusan.
” Kabar baik, Bu ” jawab KATAKAMI.COM.
Di hari pencoblosan kemarin, Megawati terlihat cantik dengan kemeja kotak-kotak bernuansa warna ungu.
” Ibu kelihatan cantik sekali hari ini ” ucap KATAKAMI.COM kepada Megawati.
” Iya dong, dari dulu saya memang cantik toh …. ” jawab Megawati sambil tertawa gembira.
Taufiq Kiemas dan Megawati, beserta semua anak dan menantunya, tak langsung mencoblos setibanya di kediaman pribadi mereka dari kediaman Jalan Teuku Umar ke rumah di Jalan Kebagusan Jakarta Selatan.
Mereka menikmati sarapan pagi soto dan mie ayam.
Sang calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan yaitu Joko Widodo (Jokowi) hadir diantara keluarga besar Taufiq Kiemas – Megawati.
Jokowi mengenakan kemeja putih.
Ia bersikap ramah kepada siapa saja yang menyapa, berjabatan tangan dan ingin berfoto bersama dirinya.
“Kok gak pakai kotak-kotak, Mas Jokowi ?” tanya KATAKAMI.COM kepada Jokowi.
“Nanti Mbak, setelah quick count mulai dilakukan, saya akan ganti baju kotak-kotak. Sekarang putih dulu” jawab Jokowi.
Jokowi juga terlihat santai diantara keluarga besar Taufiq Kiemas – Megawati.
Ia menikmati sarapan pagi sambil berbincang dengan kader PDIP, Maruarar (Ara) Sirait.
Hadir juga dua kader PDIP lainnya yaitu Hasto K. Hardjodisastro dan Wakil Sekretaris Bidang Internal DPP PDI Perjuangan, Erico Sotarduga Sitorus.


Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua F-PDIP DPR, Puan Maharani (kanan) saat memberikan keterangan pada pencoblosan Pilgub DKI Jakarta putaran kedua di TPS 31 Kebagusan, Jakarta Selatan, Kamis (20/9/2012). (JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)

Menjelang siang, barulah Taufiq Kiemas, Megawati, seluruh anak dan menantu, dengan didampingi oleh Jokowi, menuju ke TPS 31 untuk melakukan pencoblosan.
Dan setelah pencoblosan, di gelar jumpa pers di kediaman Megawati.
“Tadi kami sekeluarga telah melaksanakan Pemilukada  DKI ini. Nantinya kita akan melihat hasilnya. Sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, saya bekerja sangat keras selama ini untuk bisa memenangkan putaran kedua ini. Saya berharap pemilu di DKI ini berjalan dengan baik. Sejak seminggu yang lalu sampai tadi malam, laporan yang masuk dari seluruh mesin partai kami, mereka tetap bertugas mengawasi jalannya penghitungan suara. Saya memang mendapat laporan bahwa banya temuan-temuan di lapangan. Itulah sebabnya, untuk ke depannya nanti harus bisa menjadi lebih baik” kata Megawati di awal jumpa persnya.
Megawati menyampaikan ucapan terimakasih secara khusus kepada media massa.
“Khusus untuk Pemilu di DKI Jakarta ini, untuk kalangan media …. baik media cetak ataupun elektronika, yang telah terus menerus menyampaikan beritanya, saya sebagai Ketua Umum Partai … mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena kalangan media telah memberikan masukan dan “pembelajaran” kepada seluruh masyarakat agar jangan takut mendatangi TPS-TPS. Dengan demikian, kita bisa mengurangi golput. Sehingga, apa yang diinginkan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin, semua bisa berjalan dengan baik. Insya Allah, calon yang diajukan PDI Perjuangan ini berhasil. Mohon doanya, Pak Jokowi dan Pak Basuki Purnama bisa mengalami kemenangan” lanjut Megawati.
Megawati mengingatkan 4 hal yang menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah pemilihan umum.
“Ada 4 hal yang sangat penting yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), IT, Intelijen dan Money Politic, semuanya ini bisa netral, maka aspirasi rakyatlah yang akan terlihat. Tapi kalau ada salah satu unsur dari ke-4 hal tadi tidak netral, maka yang akan terjadi adalah kecurangan-kecurangan. Masyarakat jangan tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak etis.
Misalnya, isu SARA.
Kalau kita sebagai warga bangsa, harus memegang 4 pilar negara kita yaitu Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, merupakan tanggap dari kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Kalau ke-4 pilar ini yang kita jalankan, masalah-masalah SARA tidak perlu ada.
Kita tahu, dengan Negara yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, terutama Bhineka Tunggal Ika, kita semua harus menyadari bahwa kita adalah satu yaitu INDONESIA.
Tidak beraliran agama, tidak beralirasan ras atau suku, dan tidak pernah mengatakan bahwa kita berlainan antara satu dengan yang lainnya.
Kita adalah satu jiwa yaitu EKA di dalam Bhineka Tunggal Ika” kata Megawati.


Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (tengah) saat menyampaikan pidato kemenangannya di hadapan wartawan dan menemui pendukungnya di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta, Kamis (20/9/2012). Berdasarkan penghitungan cepat berbagai hasil survei menunjukkan pasangan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama menang dalam perolehan suara pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.

Dan seperti yang sudah kita ketahui, pasangan Jokowi – Ahok keluar sebagai PEMENANG Pilgub DKI Jakarta 2012.
Megawati pantas berlega hati.
Sejak menjelang putaran pertama Pilgub DKI, Megawati turun langsung ke lapangan membantu sosialisasi dan menyemarakkan kampanye Jokowi – Ahok.
Mega tak segan memakai seragam “kotak-kotak”.
Mega tak segan untuk ikut membuat lambang metal lewat ketiga jari tangan.
Rasanya sudah sangat lama, Mega tidak terlihat sebagaimana aslinya dulu sebagai politisi yang berkharisma dan pantang menyerah. Kehebatan Bung Karno sebagai seorang orator ulung, sesungguhnya menurun pada putri sulungnya.
Dan ketika ini disampaikan KATAKAMI.COM kepada Megawati bahwa dalam Pilkada Jakarta ini, dirinya terlihat sangat all out turun ke lapangan.
Mega menjawab, “Saya tidak berubah. Saya tetap seperti yang dulu. Tapi kadang kala, saya harus menahan diri. Sebab saya tidak mau  ada omongan-omongan yang negatif bahwa seolah-olah saya ini ambisius. Saya tahu kapan saya harus bicara”.
Semua informasi mengenai jalannya Pilgub DKI Jakarta putaran kedua kemarin, diikuti oleh pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati dari menit ke menit.
Tapi walau demikian, Mega tetap sangat peduli pada sang suami tercinta yang baru pulih dari sakit.
Mega yang menawarkan makanan untuk TK.
Mega juga yang memilihkan dan meminta pegawainya untuk menyiapkan buah untuk dimakan suaminya.
“Mas Taufiq baru sembuh. Jadi makanannya harus tetap dijaga” Mega menjelaskan dengan lembut.
Ketika kalangan wartawan mempermasalahkan, mengapa hanya TK yang tidak memakai baju kotak-kotak saat mencoblos.
Megawati menjawab dengan lugas, “Lho, Mas Taufiq memang sengaja memakai warna merah. Itu warna partai kami. Warna dari PDI Perjuangan. Kalau semua pakai kotak-kotak, warna dan ciri dari PDI Perjuangan tidak kelihatan dong. Makanya, Mas Taufiq memang sengaja memakai warna merah” ungkap Mega.
Taufiq Kiemas pun menambahkan penjelasan Megawati.
“Aku ini hampir tidak pernah pakai baju warna merah. Tapi hari ini, aku pakai merah. Ini warna PDI Perjuangan. Dan aku mau tunjukkan bahwa PDI Perjuangan itu ada” kata TK.


Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Sorkarnoputri

Lima jam bersama Megawati di hari kemenangan Jokowi menjadi DKI 1 memang merupakan sebuah momen yang sangat khusus.
Terlihat jelas bahwa Mega memang masih sangat berkharisma.
Ia tak kehilangan jatidiri dan semangat juang.
Ia tetap percaya diri dan menunjukkan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu di panggung politik harus tetap pantang menyerah.
Pemilihan Umum Gubernur di ibukota Jakarta menjadi salah satu bukti nyata bahwa Mega masih perkasa.
Ia sudah menemukan dan kembali menjadi dirinya seperti di masa kejayaan PDI Perjuangan dulu.
Turun ke bawah.
Turun ke rakyat.
Tak cuma menerima laporan dan mengabaikan interaksi langsung dengan rakyat yang tetap mencintai dirinya.
Vox Populi Vox Dei !
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan ….
Mega harus tetap menunjukkan semangat politik yang seindah ini jika PDI Perjuangan hendak meraih kemenangan pada perjuangan mereka selanjutnya di tingkatan yang lebih tinggi yaitu Pilpres 2014.
Siapapun nanti capres yang akan mereka usung pada Pilpres 2014 mendatang, PDI Perjuangan ( terutama Sang Ketua Umum ) harus melanjutkan rumus politik yang sangat jitu ini.
Turun ke bawah
Turun ke rakyat
Terutama karena karena PANGLIMA TERTINGGI mereka di PDI Perjuangan, memimpin langsung perjuangan ke akar-akar rumput untuk memenangkan perjuangan politik di garis terdepan.
Sapa, rangkul dan dengarkanlah rakyat bicara tentang apapun juga.
Sebab itulah hakekat seorang pemimpin sejati yaitu mendengarkan suara rakyatnya.
Apalagi kalau yang disuarakan oleh rakyat Indonesia adalah hal-hal yang sangat menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan ini.
Selamat untuk PDI Perjuangan
Selamat juga Megawati Soekarnoputri
Selamat untuk Partai Gerindra yang juga mengusung Jokowi
Selamat untuk Pasangan Jokowi – Basuki Purnama
“We are the champions, My Friends 
And we’ll keep on fighting till the end - 
We are the champions 
We are the champions 
No time for losers 
‘Cause we are the champions – of the world “



(MS)

Pelita Hati - Lentera Jiwa : Andi F Noya


Anton DH Nugrahanto
LENTERA JIWA (on behalf of Andi F. Noya)Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit.Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyamandi suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata.Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidakmembuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yangjujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki.Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri.Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personalKoes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone.. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.Hidup saya, katanya.Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. erbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukanlentera jiwa mereka.

Bung Karno “Lincoln”nya Indonesia


H. Amin Aryoso, S.H.
 Mengapa tulisan dan pidato-pidato Bung Karno selalu diterbitkan ulang? Apakah isinya masih relevan dengan kondisi sekarang, mengingat pidato-pidato itu sudah lama diucapkannya? Bukankah ajarannya sudah ketinggalan zaman, terutama diukur dari cepatnya perubahan di era informasi dan globalisasi dewasa ini? Apakah ini bukan berarti menyuruh kita supaya berorientasi ke belakang dan bukan ke masa depan yang punya perspektif? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, diperlukan parameter tertentu. Tentu saja ilmu pengetahuan tidak mengajar kita supaya berorientasi ke masa silam tapi selalu mengatakan supaya berorientasi ke masa depan. Kita mempelajari sejarah memang bukan dimaksudkan supaya kita selalu berorientasi ke belakang. Kita mempelajari sejarah justru supaya kita bisa lebih arif melangkah ke depan. Ada yang menganggap ajaran Bung Karno adalah suatu yang sudah klasik. Klasik sama sekali bukan kuno atau ketinggalan zaman dalam pengertian nilai. Karya-karya klasik dari Beethoven atau Mozart misalnya, bahkan selalu dinikmati sebagai musik yang indah dan abadi, dihasilkan tokoh-tokoh musik yang sangat berbakat. Ajaran kitab-kitab suci yang dibawa oleh para Nabi, meskipun sudah ribuan tahun usianya, ajarannya tetap aktual di setiap zaman dan dianut oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Dalam ajaran Islam pengertian ini lebih jelas lagi dengan mengacu kepada HadisNabi yang mengatakan : Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah untuknya pahala segala amalnya, kecuali dalam 3 hal : 1. Sedekah jariah yang pernah diamalkannya selagi ia hidup. 2. Ilmu yang pernah diajarkannya dan tetap dimanfaatkan orang. 3. Anak-anak saleh yang ditinggalkan dan selalu berdo’a untuk kedua orang tuanya. Dalam Hadis ini jelas dikategorikan bahwa ilmu yang terus dimanfaatkan adalah sesuatu yang senantiasa mendapat ganjaran dari Tuhan sampai kapanpun. Membicarakan ajaran Bung Karno, memang beliau bukan Nabi yang ajarannya bisa abadi, tapi beliau seorang genius dan ajaran (ilmu) yang ditinggalkannya senantiasa bermanfaat, seperti halnya banyak penemuan genius lainnya. Kita ambil saja contoh Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16 (1860-1865) dengan pemikirannya yang agung menghapuskan perbudakan dan memproklamasikan kemerdekaan semua budak di Amerika Serikat. Ini adalah jasa abadi Lincoln yang tidak pernah dilupakan oleh rakyat Amerika. Bagaimana dengan Bung Karno? Situasi kondisi Paska Proklamasi Indonesia dipenuhi issue bahwa Republik Indonesia adalah bikinan Jepang dan Bung Karno dituduh Kolaborator Jepang, demikian tuduhan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr. Van Mook. Namun, seorang wartawan BBC (Inggeris), Richard Straub, pada 22 September 1945 mendarat bersama-sama tentara Inggeris yang mewakili Sekutu di Tanjung Priok, sebagai wartawan perang, dibawah komando Jenderal Sir Philip Christison, berpandangan yang diametral bertentangan dengan Dr. Van Mook. Prof. Bernhard Dahm dalam bukunya “Soekarno and the struggle for Indonesia independence”, merekam laporan wartawan perang Richard Straub antara lain sbb: Christison yang mendarat di Jawa 22 September 1945 dalam pernyataannya pertama mengatakan bahwa ia tidak akan menghalau pemerintah Republik. Pihak Inggeris hanya mengharapkan pemerintah Republik terus menyeleng­garakan administrasi sipil di daerah-daerah yang tidak di duduki oleh tentara Inggeris. Pihak Inggeris bermaksud untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin golongan (Indonesia-Belanda), untuk memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa Christison akan mengusahakan agar pemimpin-pemimpin Belanda dan Indonesia mau menghadiri satu Konperensi Meja Bundar, yang ternyata di tolak mentah-mentah oleh Belanda. Kiranya tak mungkin ada sangkalan yang lebih jelas lagi terhadap prasangka Soekarno yang sudah berlangsung ber­puluh-puluh tahun terhadap Barat dan yang di saat-saat itu dengan cerdik ia sembunyikan dari pada pernyataan Jenderal Inggeris itu. Bung Karno mengatakan, orang-orang Inggeris itu ternyata tidak datang sebagai imperialis pemangsa seperti diperkirakan semula, mereka bahkan mengatakan tidak ber­­maksud untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Tentara mereka hanya ditugaskan untuk mengungsikan tawanan-tawanan perang, melucuti dan memulangkan serdadu-serdadu Jepang dan memelihara ketertiban. Bung Karno segera mengatakan bahwa jika hanya itu tujuan mereka, rakyat Indonesia tidak akan merintangi Sekutu dalam melakukan pekerjaan mereka. Dalam waktu bersamaan, Soekarno memberikan wawancara serupa maksudnya dengan apa yang diucapkannya itu, kepada seorang wartawan perang Inggeris, Richard Straub dari BBC London, yang kemudian mela­porkan dengan penuh antusiasme dalam siaran BBC 2 Oktober 1945 (sekembalinya wartawan itu dari Indonesia), bahwa “Lincoln” masih hidup di Indonesia. Soekarno tidak disangsikan lagi adalah “Lincoln” itu, orang yang paling baik di Indonesia telah menyatakan kepadanya, tiga setengah tahun ia telah berhasil mendirikan sebuah Republik yang mencontoh Amerika Serikat, dan yang berdasarkan demo­krasi. Sekarang Indonesia hanya menantikan pengakuan dari Amerika Serikat. Yang dimaksud oleh Richard Straub bahwa “Lincoln” masih hidup di Indonesia, ialah : Kalau Presiden Abraham Lincoln telah berhasil menghapuskan perbudakan dan memprokla­masikan kemerdekaan semua budak di AS, juga di Indonesia Bung Karno telah berhasil memerdekakan 70 juta rakyat Indonesia, penduduk waktu itu, seperti halnya Lincoln. Untuk menjelaskan mengapa kata-kata Bung Karno begitu dikagumi di samping Proklamasinya, terletak pada sepenggal kata-kata yang menghantarkan pembacaan teks Proklamasi bahwa : “Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di tangan kita sendiri. Bahwa hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya”. Sesudah itu teks proklamasi dibacakan yang segera menjadikan 70 juta rakyat Indonesia waktu itu merdeka dari penjajahan Belanda yang sudah berlangsung 350 tahun. Namun sebelum itu, Bung Karno juga sudah memper­sembahkan sebuah tulisan monumental “Mencapai Indonesia Merdeka” yang ditulisnya pada tahun 1932. Begitu buku tipis ini yang tidak lebih dari 100 halaman beredar, langsung dinyatakan terlarang, dan dalam penggeledahan dari rumah ke rumah, semua buku yang ditemukan dirampas, tuduhan yang mungkin saja benar, karena tulisan itu dijadikan pedoman bagi rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya. Sesudah buku tipis ini terbit, Bung Karno ditangkap kembali dan diasingkan ke Endeh kemudian dipindah ke Bengkulu, sampai Jepang datang mengusir Belanda dari Indonesia. Tiga setengah tahun kemudian, Indonesia pun merdeka. Tindakan Belanda melarang buku-buku Bung Karno di tiru mentah-mentah oleh Orde Baru dalam rangka de-Soekarnoisasi, di mana semua buku Bung Karno dimus­nah­kan dan dilarang beredar. Itulah sebabnya Yayasan Kepada Bangsaku merasa terpanggil untuk ikut menerbitkan kembali pilihan tulisan atau pidato-pidato Bung Karno secara berkelanjutan, karena Bung Karno bukan saja Proklamator Kemerdekaan tapi juga Bapak Bangsa dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pemikirannya selalu memberikan inspirasi kepada setiap orang yang mau berjuang untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Akhirnya kami ucapkan terimakasih kepada Dr. H. Roeslan Abdulgani yang telah mengizinkan kami menggunakan dokumentasi pribadinya yang berisi naskah-naskah yang dimuat dalam buku ini. Jakarta, 17 Agustus 2001 Subowo bin Sukaris Hasta Mitra Updated at: 12:17 PM

Pelita Hati - NASDEM: Pilkada itu baik tapi sisakan kelemahan

JAKARTA—Partai Nasdem menilai pemilihan kepala daerah (pilkada)secara langsung harus tetap dipertahankan meski masih ada kelemahan, namun partai politik juga harus serius melakukan pembenahan agar tetap mendapat kepercayaan publik. Sekretaris Majelis Nasional Partai NasDem Partai NasDem, Jeffrie Geovanie mengatakan hingga saat ini pilkada langsung tetap menjadi pilihan terbaik. Pasalnya, sistem pemilihan tersebut telah mewakili kepentingan dan suara suara ril dari rakyat. "Sebagai parpol, NasDem sampai saat ini tetap mendukung pelaksanaan pilkada secara langsung. Ini merupakan pilihan terbaik dari pilihan buruk yang ada saat ini," ujarnya, Minggu (23/9). Nasdem, ujar Jeffrie juga tidak sepakat bila pemilukada kembali menggunakan regulasi lama yaitu kepala daerah dipilih oleh DPRD. Usulan agar pilkada langsung dihentikan dikemukakan oleh Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin. Menurutnya, saat ini MPR tengah membahas usulan agar pilkada diserahkan ke DPRD masing-masing daerah dan bisa saja setiap daerah memiliki mekanisme pilkada yang beragam pula. Dia mengemukakan pilkada di Aceh, Yogyakarta dan Papua tidak harus sama seperti pilkada di sejumlah daerah lain. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama dalam sidang Komisi Bathsul Masail Munas NU, juga merekomendasikan kepada pemerintah untuk menghentikan pilkada langsung. Alasannya, pilkada langsung lebih banyak kerugiannya dibandingkan manfaatnya. Menurut Jeffire, pembenahan partai politik diperlukan agar partai politik tersebut menjadi sehat. Partai yang sehat, ujarnya, memiliki kader-kader yang punya dedikasi dan integritas sekaligus elektabilitas yang baik. Selain itu, partai politik harus bisa mendidik kader-kader muda agar terjadi regenerasi kualitas pemimpin. Selain partai membenahi diri, Jeffrie juga menekankan agar proses seleksi atau verifikasi partai politik di KPU Pusat harus serius, baik verifikasi administrasi maupun verifikasi faktual. Menurut Jeffrie, NasDem sendiri menghormati usulan dan ajakan ulama mengingat banyak konsekuensi negatif dari pilkada langsung. Terutama karena memakan biaya politik yang banyak dan menciptakan konflik sosial. Namun, menurutnya, pilkada langsung merupakan pilihan tepat karena asas langsung , umum, bebas, rahasia (luber) tercakup dan merepresentasikan pilihan ril dari rakyat sendiri. Sebelumnya Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti mengatakan, memang secara kasat mata akan mudah menuduh bahwa pilkada langsung itu merusak. Hal itu, ujarnya, terbukti ketika sering muncul aksi anarkis dan politik uang. Namun, pilkada langsung tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menjadikan masyarakat beradab. Menurutnya, politik uang dan aksi kekerasan adalah efek samping, bukan sesuatu yang inheren dalam pilkada langsung itu. Karena hanya efek samping maka praktik itu dapat diselesaikan dengan cara-cara lain, tanpa membuang unsur berdemokrasi. (Faa)

Pelita Hati - Nasdem melirik Mahfud

VIVAnews - Partai Nasdem sedang mencari figur yang pas untuk diusung sebagai calon presiden di pemilu 2014 nanti. Partai besutan pemilik Media Group Surya Paloh itu kini juga membidik sejumlah nama. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, masuk dalam radar. Dalam rilisnya, Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella menyebutkan nama Mahfud sebagai capres alternatif yang dilirik partainya. Selain Mahfud, nama Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman juga masuk dalam pantauan. Dalam pandangannya, Rio menyatakan tidak meragukan kapasitas Mahfud dan Irman. Dia menilai, Mahfud dan Irman merupakan pemimpinan lembaga tinggi negara yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat. Namun, Rio mengakui, kedua tokoh itu masih memiliki kendala yakni tidak memiliki kendaraan politik. "Sangat disayangkan apabila figur seperti Mahfud dan Irman disia-siakan parpol dengan tidak mengusungnya sebagai capres 2014 mendatang," ujarnya. Di samping memiliki kapasitas sebagai pemimpin, Rio juga berpendapat, Mahfud dan Irman merupakan figur yang unik dengan pemikiran-pemikiran mereka yang segar dan moderat. Keduanya juga dianggapnya memiliki pemahaman tentang masalah kebangsaan dan kebhinnekaan dengan sangat baik. "Yang penting itu ide dan gagasan. Jujur mencermati perkembangan yang ada, nama Mahfud dan Irman sudah lama kami teropong sebagai salah satu capres,” katanya. Rio berharap parpol yang ikut Pemilu 2014 mendatang dapat mendorong munculnya nama-nama capres alternatif. Kalau tidak, maka Pemilu 2014 hanya dipenuhi capres muka lama. Menurutnya dengan kemunculan capres alternatif, maka pilihan publik tidak terbatasi. "Masak Indonesia negara yang besar dan plural, capresnya itu-itu saja. Negara Indonesia butuh pemimpin alternatif yang bisa membawa perubahan," ucap dia. Survei Saiful Mujani Research and Consulting di Jakarta antara 7-11 September lalu menemukan nama Mahfud MD muncul dalam daftar 15 nama calon presiden terpopuler yang potensial diusung di 2014 nanti, meski angka elektabilitasnya masih rendah. Mahfud mendapatkan skor elektabilitas 1,4 persen atau di urutan 14. Adapun nama Irman Gusman tak muncul.

Senin, 24 September 2012

Kelicikan Media Massa


Bukan satu-dua kali, jika menyangkut Islam, media TV menampilkan sumber monolog, utamanya datang dari militer atau polisi.
 Oleh: Aditya Abdurrahman*
 Tak lama setelah pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Ustad Abubakar Ba’asyir (ABB) ditangkap Densus 88, sebuah stasiun TV mengadakan acara dialog Live. Melalui seorang presenter, stasiun televisi tersebut membuka kesempatan bagi pemirsa untuk memberikan opininya tentang penangkapan Ustad ABB. Tanpa disangka, si penelepon, rupanya sejalan dengan pemikiran ABB, di mana ia meyakini ada rekayasa asing dalam penangkapan tersebut. Tapi ada yang menarik dalam sesi tanya jawab itu. Di saat sang penelpon mengatakan bahwa Densus 88-lah yang sebenarnya melakukan tindakan “teror” , telepon sang penanya langsung diputus oleh pihak TV. Rupanya presenter tahu betul, si penelepon kurang sejalan dengan misi TV-nya dalam dialog bertema terorisme ini. *** Kasus-kasus seperti ini di media massa kita memang bukan terjadi sekali-dua kali. Bulan Juli 2009, beberapa hari pascapeledakan bom Kuningan, sebuah stasiun TV mewawancarai mantan Kepala Densus 88 Polri Brigjen Pol. (Purn) Suryadarma Salim. Dengan panjang lebar mantan Kepala Satgas Antiteror Polri ini secara monolog, menjelaskan masalah terorisme. Ia, mengatakan, "Mereka ingin mendirikan Daulah Islamiyah (negara Islamiyah di Indonesia), dan habitat mereka itu paling subur di Indonesia.” Bisa dibayangkan, seorang polisi--bukan seorang ahli mengenal liku-liku gerakan Islam—bahkan boleh dikata kurang paham Islam, membahas terorisme dan kaitannya dengan Islam secara monolog, tanpa pembanding. Yang mengejutkan, tayangan itu disiarkan lagi berulang-ulang selama beberapa hari, dari pagi, sore, dan malam hari. Sekedar catatan, rata-rata untuk tayang iklan di TV butuh biaya sekitar Rp 10 juta per/ 30 detik. Memunculkan Suryadarma Salim dengan waktu panjang berulang kali, bukan sebuah kebetulan. Pastilah ada udang di balik batu. Berapa juta orang “terhipnotis” kampanye Suryadarma Ali hari itu? Islam dan propaganda media Dua hal yang tak bisa dipisahkan dalam setiap misi media adalah, membangun opini publik dan propaganda. Pertama, propaganda selalu memberikan informasi yang dirancang dengan pesan yang sudah disiapkan tujuannya. Tentu saja, terserah pengelola media yang bersangkutan. Semua pesan dan faktanya, adalah pilihan redaksi. Pesan propaganda harus dapat menghasilkan pengaruh. Jadi, propaganda bukan suatu kebetulan, dia adalah memanipulasi buah pikiran yang dikehendaki. Kedua, opini publik (public opinion). Secara psikologis, opini publik pada dasarnya ditentukan oleh pendangan dan kepentingan pribadi atau golongan (dalam hal ini media). Meski demikian, kemampuannya mampu menggerakkan perangkat politik dan Negara. Korban dua hal ini bisa dilihat dalam kasus wacana FPI, poligami, nikah sirri dan terorisme. Syekh Puji dicitrakan sangat negatif karena ia menikahi anak SMP. Karena itu, media memberi image orang menikah “sirri” sebagai kejahatan, melebihi koruptor. Sebaliknya jutaan orang justru dimuliakan karena mereka kumpul kebo. Andaikata Syekh Puji meniduri 100 WTS, dia tak akan dihukum dan tidak akan pula dicitrakan seolah “jahat”. Mantan Ketua PBNU pernah berseloroh, “Jika nanti ada polisi menggerebek orang yang nikah sirri, lebih baik mengaku saja kumpul kebo.” Pernyataan ini, sekedar menunjukkan, betapa tak adilnya hukum dan logika media massa di negeri ini. Bukan sekali-dua kali umat Islam dikadalin (dikerjain, red) media massa tanpa bisa melakukan pembalasan atau memberikan hal jawab secara adil dan sepadan. Di sinilah letak penting mengapa umat Islam harus memiliki media. Hanya saja, meski sering menjadi korban, umat Islam sering mengabaikan arti penting keberadaan media. Kaum muslim yang kaya, biasanya, sering mengalokasikan uangnya untuk kampanye jadi bupati, gubernur atau presiden. Betapa sering orang kaya-raya menghambur-hamburkan uangnya untuk kampanye pilkada? Toh akhirnya tidak sedikit mereka batal jadi pejabat. Jika umat Islam memiliki media yang bagus dan kuat, dan dikelola secara baik, maka, pemberitaan dan pembentukan opini apapun bisa dikelola secara baik. Isu negatif tentang Islam akan dengan mudah pula dinetralisir. Semua pencitraan buruk tentang Islam oleh Barat, juga bisa terbendung. Adalah pernyataan Dr. Yusuf Qaradhawi yang sangat luar biasa bagus. Beliau mengatakan, “Kalau saja kita (umat Islam) diberi kebebasan selama 20 tahun untuk membina umat, tanpa gangguan dan tekanan penguasa (Barat) atau konflik dengan mereka, itu sudah cukup untuk mengembalikan kejayaan umat Islam”. Faktanya, umat Islam tak berdaya bukan karena mereka tak berdaya. Yang ada, karena mereka “diperdayai”. Dr. Zakir Naik, seorang ilmuwan, kristolog dan seorang dai asal India, pernah merasakan ini memanfaatkan peluang emas mengisi seorang diri. Ia pernah beusaha me-lobby sebuah stasiun televisi untuk program Islam tanpa disensor, ditutup-tutupi atau diatur keinginan rating. Ketika itu waktu yang diberikan hanya beberapa puluh menit saja, namun Alhamdulillah, program itu mampu menyedot perhatian pemirsa dan direspon secara positif. Sampai akhirnya stasiun televisi lokal tersebut rela membayar Dr. Zakir Naik atas program yang dibuatnya tersebut. Namun beliau menolak, dengan mengatakan, “Saya tidak butuh uangmu, cukup berikan saya waktu lebih banyak lagi untuk mendakwahkan Islam di televisimu”. Sesungguhnya jika kehidupan dunia ini bisa diibaratkan game (permainan), dan umat Islam diberi waktu memainkan peran secara adil, maka hasilnya akan berbeda. Tapi, faktanya tidaklah demikian. Media dan dakwah Kepemilikan media sangat menentukan keberhasilan dakwah Islam melalui media. Itu juga yang menjadi alasan mengapa dakwah Islam belum bisa efektif dan tersebar luas di seluruh pelosok dunia. Umat Islam harus berazam untuk memiliki media massa yang baik atau memperkuat yang sudah ada. Media yang adil dalam penyampaian berita, sehingga dampaknya bisa dirasakan pada semua makhluk, tak hanya umat Islam sendiri. Bahkan bisa dirasakan umat lain. Bukan media yang menuhankan rating. Media massa yang menjadikan ideologinya profit oriented, ia cenderung menghalalkan segala cara. Karenanya, jangan heran, banyak orang cerdas tiba-tiba hilang kendali setelah mereka bergabung di media massa. Sebelum masuk, ia dikenal anak-anak kampus yang cerdas. Sebab, rata-rata IP menjadi wartawan selalu di atas 3 dan memiliki kemampuan bahasa asing yang baik. Sayangnya, setelah jadi wartawan, kebiasaan membaca, mendengar pendapat orang dan kemampuan menganalisa jadi tumpul. Sebab, ia lebih mengejar “esklusivitas” berita. Secara akademik, mungkin ia masih cerdas, tapi, ia sudah tak memiliki kecerdasan “hati”. Hampir semua orang yang digerebek Densus 88 langsung disebut media sebagai “teroris”, meski pengadilan belum berjalan. Media tak pernah mengukur, bagaimana perasaan anak dan istri mereka di lingkungan, di sekolah, dan di tempat kerja mereka. Sebutan ini saja sudah hukuman yang belum tentu bisa hilang selama puluhan tahun. Tapi tak usah berharap banyak, sebab, media yang visi utamanya hanya profit oriented, bisa dipastikan, tak akan melahirkan wartawan/penulis/reporter/redaktur yang memiliki kecerdasan hati dan perasaan. Hasilnya selalu begitu. Selama orientasi pemilik media hanyalah modal dan profit, maka selamanya tak akan sejalan dengan tujuan dakwah dan Islam itu sendiri. Di sinilah letak arti penting media Islam. Meski demikian, pekerjaan mengelola media bukanlah pekerjaan sederhana. Sebab ia dibutuhkan keterampilan dan keahlian yang baik dan benar. Bukan asal membuat media. Andaikata, saat ini semua media, TV dan kantor berita dihibahkan kepada umat Islam, belum tentu, umat Islam mampu mengelolanya dengan baik. Sumber daya umat Islam dalam mengelola media ini masih kurang akibat ketidakterarikan umat akan bidang ini. Di saat yang sama, banyak umat Islam membanggakan media-media yang selama ini justru sering “memusuhi” Islam secara diam-diam. Bahkan tak terasa pula, ia menjadi wartawan/penulis/pembaca, bahkan menjadi pelanggan setianya. Pertanyaannya, sampai kapan Anda tak peka dalam masalah ini?
 Penulis sedang mengambil program pascasarjana bidang komunikasi di Universitas Airlangga Surabaya

Sabtu, 22 September 2012

Rachmawati Soekarnoputri Resmi Gabung Partai NasDem

 
Rachmawati Soekarnoputri
Bandung Rachmawati Soekarnoputri, anak Proklamator RI Soekarno, menyatakan diri bergabung ke Partai Nasional Demokrat (NasDem). Adik dari Megawati Soekarnoputri ini menyatakan mempunyai visi misi sama dengan partai yang dipelopori Surya Paloh tersebut.

Bergabungnya Rachmawati pertama kali diungkapkan Ketua Umum Partai NasDem Patrice Rio Capella saat memberikan sambutannya dalam acara Pelantikan DPD, DPC dan DPRt di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Minggu (16/9/2012).

"Ada kabar gembira. Hadir di tengah kita semua, Rachmawati Soekarnoputri hari ini resmi bergabung dengan Partai NasDem," ujar Patrice.

Kabar tersebut disambuh riuh tepuk tangak dan sorak ribuan kader NasDem yang memenuhi Sabuga.

Ia berharap, masuknya Rachmawati dapat menjadi suplemen gerakan perubahan di Partai NasDem.

"Kita akan terus menambah barisan nasionalis untuk bergabung dan membesarkan Partai NasDem," katanya.

Sementara itu, saat didaulat memberikan pidato, Rachmawati terlihat terharu dengan sambutan ribuan kader NasDem. Bahkan beberapa kali ia terdengar tak bisa meneruskan kata-katanya.

"Saya terharu," ucap Rachmawati sambil menahan suaranya saat mendengar namanya disebut-sebut para kader.

Waktu sesi pidato, Rachmawati mengungkapkan alasan mengapa mau bergabung dengan Partai NasDem.

"Awalnya saudara saya Surya Paloh yang meminta saya bergabung dengan NasDem. Saya tadinya berkontempelasi, saya ini dulunya nonpartisan. Apa saya tetap jadi nonpartisan. Tapi karena saya tahu sahabat saya punya visi misi yang sama. Akhirnya saya pun bergabung," jelasnya.

Sebagai anak proklamator, sambung Rachmawati, dirinya memiliki tugas meneruskan perjuangan ayahnya guna membangun bangsa.

"Saya selalu mengatakan bahwa saya ini tidak cukup hanya sebagai anak biologis Soekarno, saya juga harus jadi anak ideologi Bung Karno. Saya harus bermanfaat sebagai pembangun bangsa," kata Rachmawati.

Dia menambahkan, di Kota Bandung ini ayahnya menemukan basic ideologi Pancasila, sehingga diharapkan Bandung juga menjadi awal yang baik bagi Partai NasDem.

"Saya akan ikut berjuang untuk ikut memenangkan Partai Nasdem sebagai satu-satunya pemenang (pemilu) di 2014," tutupnya.

(tya/rmd)


Browser anda tidak mendukung iFrame

Jokowi Menang Karena Rakyat Muak Politisi Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP Partai Gerindra Bidang Advokasi, Habiburokhman menegaskan kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta karena nampaknya rakyat sangat muak dengan perilaku beberapa elit Partai Demokrat yang dahulu mengkampanyekan pemberantasan korupsi, ternyata saat ini justru satu demi satu dibidik oleh KPK.
"Jadi terpilihnya Jokowi - Ahok bukan  sekedar karena mereka muda, karena banyak politisi muda juga terseret kasus korupsi seperti Nazarudin, Angelina Sondakh dan Gayus Tambunan," kata Habiburokhman dalam siaran persnya Jumat (21/9/2012).
Menurut dia hal ini menandakan keinginan warga DKI akan terjadinya perubahan pengelolaan negara.
"Terlebih pengusung utama Foke adalah Partai Demokrat, yang merupakan partai incumbent baik di level nasional maupun level DKI yang sejumlah kadernya saat ini dililit kasus korupsi," katanya.
Habiburokhman menambahkan pasangan yang diusung Gerindra dan PDIP Jokowi - Ahok banyak mendapat dukungan karena bersih, punya visi dan misi sederhana namun solutif , punya karakter yang baik dan track record -nya jelas.
"Terlebih pengusulan mereka menjadi Cagub dan Cawagub cukup dramatis dan bebas dari politik transaksional," katanya.
Dijelaskan jalan Jokowi-Ahok untuk memimpin DKI memang cukup berliku, setelah sukses mendapatkan “kendaraan” politik dari PDIP dan Gerindra, ternyata mereka juga sukses memenangkan hati rakyat hingga mendapat dukungan sangat besar dari berbagai elemen masyarakat mulai dari LSM, Ormas, Paguyuban Warga dan organisasi-organisasi relawan.
"Figur Jokowi - Ahok ternyata bisa menyatukan berbagai elemen masyarakat tersebut yang sebelumnya justru pernah saling berseteru," kata dia.
Dijelaskan kekalahan Foke adalah lampu hazard atau peringatan keras bagi mereka yang berkuasa namun tidak bisa menyelesaikan persoalan rakyat.



Penulis: Hasanudin Aco  |  Editor: Willy Widianto

Ical Tak Khawatir Politikus Golkar Dibajak Nasdem (Lagi)

Nikky Sirait
Aburizal Bakrie sempat gerah dengan keberadaan Partai Nasional Demokrat. (Jaringnews)
Aburizal Bakrie sempat gerah dengan keberadaan Partai Nasional Demokrat. (Jaringnews)
Satu hal yang membuat Ical yakin Golkar tetap akan solid: ideologi yang kuat.
JAKARTA, Jaringnews.com - Geliat Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yang gencar merekrut kader potensial dari partai lain dengan tawaran menggiurkan, tak bikin Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie alias Ical khawatir. Ical beralasan, Golkar dihuni begitu banyak politikus mumpuni, sehingga kepergian satu-dua kader tak akan begitu mempengaruhi.

"Banyak sekali lapisan kader Golkar di berbagai daerah. Satu kader pindah, ada kader yang lain. Banyak stok, karena itu saya tidak khawatir," ujar dia, di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta, Sabtu (28/7).

Satu hal yang membuat Ical yakin Golkar tetap akan solid: ideologi yang kuat. Ideologi ini, kata dia, sedari dulu telah ditempa dengan baik dan membuat keutuhan partai tetap terjaga.

Sebelumnya, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengklarifikasi jumlah kader partai lain yang kini masuk ke partainya. Kini total ada 137 kader, bukan 37 seperti yang diberitakan.

"Bukan sebanyak 37 orang, tapi ada 137 orang anggota DPR dan politisi yang berkomunikasi, ingin masuk Partai Nasdem," ujar dia--yang sebelumnya merupakan kader Golkar--di Jakarta, Kamis (26/7) lalu.
Selain Ferry, Jeffrie Geovani, yang semula berbaju Golkar, kini menjadi kader Nasdem. Surya Paloh, yang sempat bersaing dengan Ical memperebutkan kursi ketua umum Golkar di tahun 2009 lalu. Dikalahkan Ical, Surya Paloh berkonsentrasi di organisasi masyarakat (ormas) Nasdem. Pada tanggal 7 September 2011 lalu, Surya Paloh memutuskan mundur dari Golkar.
(Nky / Nky)

Jokowi Basuki



Belum Juga Jadi Peserta Pemilu, Nasdem Sudah Ambil Dana Bansos

Novel Martinus Sinaga
Pawai Partai Nasional Demokrat. (Antara/Jaringnews)
Pawai Partai Nasional Demokrat. (Antara/Jaringnews)
Nasdem menggunakan anggaran pemerintah untuk keperluan organisasinya.
JAKARTA, Jaringnews.com - Meskipun partai baru Nasional Demokrat (Nasdem) belum terdaftar sebagai peserta pemilu dan belum dinyatakan lolos sebagai partai peserta pemilu untuk 2014, namun partai berlambang burung elang ini telah mengambil dan menggunakan dana pemerintah (dana bantuan sosial) dalam menjalankan roda organisasinya.

Begitulah fakta yang terungkap dari salah satu daerah kabupaten di negeri ini yaitu Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu.

Demikian disampaikan salah satu Anggota Dewan Perwalilan Rakyat Daerah (DPRD) Rejang Lebong, Erfensi, SH usai mengadukan indikasi penyalahgunaan keuangan negara di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2010-2012 ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Jumat (20/9).

"Belum jadi peserta pemilu aja, Nasdem sudah ambil anggaran Bansos di Kabupaten kami," kecamnya.

Dari rekapan pengeluaran kegiatan bansos, ia menuturkan bahwa sedikitnya di tahun 2011, sedikitnya sudah 2 (dua) kali Nasdem menggunakan anggaran pemerintah untuk keperluan organisasinya.

"02 Maret 2011 Nasdem mendapat bantuan dana bansos untuk Deklarasi Nasdem sekitar 20 juta, 05 Juli 2011 Nasdem mendapat bantuan dana bansos untuk verifikasi internal Partai Nasdem," terangnya.

Menurutnya, dana bansos untuk Partai sewajarnya tidak bisa didapatkan oleh partai nasdem karena belum pernah menjadi peserta pemilu.

"Belum juga menjadi peserta pemilu, nasdem telah menambil dana bansos di daerah kami bagaimana di daerah-daerah lainnya,"tandasnya.
(Nvl / Deb)

Jumat, 21 September 2012

Arti Penting Integritas

 
 by sriyuliani
Integrity atau integritas adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan  nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan  kebenaran dari tindakan seseorang. Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik).  Seorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya (Wikipedia).
We have integrity when what people see is the same as who we say we are. Mudahnya, ciri seorang yang berintegritas ditandai oleh satunya kata dan perbuatan bukan seorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Seorang yang mempunyai integritas bukan tipe manusia  dengan banyak wajah dan penampilan yang  disesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya.
Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari pegawainya. Pimpinan yang berintegritas  dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi  tindakannya.
Dari selancar di internet saya menemukan ungkapan yang menarik tentang integritas :
“When you are looking at the characteristics on how to build your personal life, first comes integrity; second, motivation; third, capacity; fourth, understanding; fifth, knowledge; and last and least, experience.
Without integrity, motivation is dangerous; without motivation, capacity is impotent; without capacity, understanding is limited; without understanding, knowledge is meaningless; without knowledge, experience is blind. Experience is easy to provide and quickly put to good use by people with all other qualities.
Make absolute integrity the compass that guides you in everything you do. And surround yourself only with people of flawless integrity.”
(Sumber dari S I N I )
Ungkapan yang saya cetak tebal menurut saya sangat inspirasional : Tanpa integritas , motivasi menjadi berbahaya; tanpa motivasi, kapasitas menjadi tak berdaya; tanpa kapasitas, pemahaman menjadi terbatas; tanpa pemahaman pengetahuan tidak ada artinya; tanpa pengetahuan, pengalaman menjadi buta.
Kesimpulannya, integritas adalah kompas yang mengarahkan perilaku seseorang. Integritas adalah gambaran keseluruhan pribadi seseorang (integrity is who you are).
Setelah membaca tentang makna integritas, saya berpendapat kriteria integritas sebagai persyaratan pertama dalam memilih pimpinan, baru berikutnya menyusul syarat kapabilitas intelektual dan manajerial. Semakin banyak tipe manusia dengan integritas yang tinggi akan menentukan maju mundurnya suatu lembaga dan lebih luas lagi akan menentukan masa depan suatu Negara. Jika demikian halnya, saya jadi bertanya-tanya kalau Indonesia sampai saat ini masih berkutat dalam upaya  melepaskan diri dari jerat korupsi yang sedemikian sistemik, apakah ini ada kaitannya dengan integritas para pemegang jabatan Negara ya? Di antara begitu banyaknya pemimpin Negara di kelembagaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, siapa-siapa saja  yang menunjukkan seorang pemimpin yang berkarakter dan berintegritas tinggi sehingga mampu menumbuhkankan trust di hati banyak warga bangsa Indonesia?  Kalau mencari pemimpin yang berpendidikan tinggi , yang ahli atau pakar di bidangnya tentunya kita tidak akan kesulitan menemukannya. Indonesia berlimpah dengan sarjana. Magister, doctor, dan professor setiap tahun juga semakin bertambah jumlahnya. Namun, siapa pemimpin yang betul-betul berintegritas tentunya tidaklah sebanyak jumlah para pakar.
Sungguh celaka kalau ternyata pemimpin yang berintegritas itu sulit ditemukan, dan sebaliknya yang banyak justru tipe sebaliknya yakni tipe hipocricy . Jika begitu maka Indonesia sungguh-sungguh dalam ancaman bahaya.  Bahaya yang mengancam ini bukan main-main. Karena pemimpin yang tidak jujur, lebih mengutamakan kepentingan pribadi , kelompok dan golongan akan cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Lembaga atau Negara  yang mengalami krisis  integritas akan mengalami kemerosotan akibat proses pembusukan dari dalam unsur-unsur organisasi atau Negara itu sendiri.
Saya berdoa agar Indonesia tercinta ini tidak akan menghadapi ancaman bahaya krisis integritas. Kalau pun kita tidak dapat berharap banyak pada generasi saat ini, kita masih bisa meletakkan harapan dan impian kita di pundak generasi mendatang. Kuncinya ada di pendidikan. Nilai-nilai apa yang ditanamkan di benak generasi mendatang dan teladan apa yang dicontohkan akan membentuk karakter mereka. Bicara integritas, maka nilai kejujuran dan pentingnya meletakkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan menjadi nilai yang utama. Sudahkah nilai-nilai ini kita tanamkan dan kita contohkan pada anak-anak Indonesia saat ini ?  Jika belum atau bahkan yang ditanamkan adalah nilai-nilai yang mengunggulkan dan mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri dan yang dicontohkan adalah perilaku yang tidak konsisten dengan yang diucapkan dan dikotbahkan, maka jangan berharap akan banyak lahir manusia-manusia berintegritas di bumi Indonesia.
Integritas tak dapat lepas dari kejujuran, sebagai penutup mari kita dengar apa kata Billy Joel tentang  HONESTY

Arti Penting Kampanye Politik

Kamis, 30 Agustus 2012 02:31
Pada saat ini, marketing politik semakin memegang peranan penting dalam pemil­ihan umum (pemilu). Akibat­nya yang lebih menonjol saat ini yaitu politik ‘kemasan’. Sistem dan budaya politik seperti ini akan meng­un­tungkan bagi pihak-pihak yang memiliki kemampuan besar, terutama biaya dalam membangun pencitraan. Dari jauh hari, banyak calon kon­tes­tan Pemilu membayar konsultan atau merekrut orang-orang yang ahli dalam politik untuk menyusun stra­tegi dan skenario yang efektif memenangkan pemilu.
Kampanye politik meru­pakan bagian penting dalam marketing politik. Di samping kampanye resmi yang diatur undang-undang, sebelum pe­milu bahkan sudah ada pema­sangan atribut-atribut partai atau gambar-gambar per­orangan yang bisa dianggap sebagai kampanye terse­lubung.
Jika merujuk pada Un­dang-Undang No. 8 Tahun 2012 dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kampanye yaitu kegiatan-kegiatan penyampaian visi, misi, dan program pada wak­tu tahapan kampanye Pemilu. Dalam Undang-undang ini, selain waktu, diatur juga soal materi kampanye, metode kampanye, larangan dalam kampanye dan sanksi atas pelanggaran kampanye, yang semua itu nantinya akan diatur secara lebih teknis dalam peraturan-peraturan KPU. Permasalahannya, untuk kegiatan-kegiatan di luar tahapan, penyelenggara Pe­milu biasanya tidak bisa meng­ambil tindakan atau mem­berikan sanksi terhadap pih­ak-pihak, baik partai politik maupun orang-per-orang yang melakukan kampanye di luar yang telah diatur dalam Undang-undang.
Kampanye-kampanye atau kegiatan berbentuk kampanye melalui media dan pema­sangan atribut ini telah terlalu banyak memenuhi ruang-ruang dan kehidupan kita. Intensitas kegiatan berbentuk kampanye semakin meningkat masa liburan dan hari besar kea­gamaan. Di Sumatera Barat khususnya  di masa hari raya idhul fitri begitu banyak terpasang baliho dan spanduk-spanduk yang menampilkan gambar-gambar, ucapan-ucapan selamat hari raya dan lain-lain oleh penggiat-peng­giat politik. Masyarakat seperti dipaksa dan didoktrin habis-habisan oleh berbagai kekuatan politik atau pihak yang akan maju dalam Pe­milu dan pemilihan kepala daerah. Iklan-iklan yang dire­ka sedemikian rupa  serta janji-janji yang diucapkan setiap saat dipertontonkan dan diperdengarkan.
Selama ini, tahapan Pe­milu yang paling menjadi perhatian yaitu pemungutan dan penghitungan suara. Fokus perhatian seluruh stakeholders politik dan Pemilu yang hanya tertuju pada kalah-menang seringkali menyebabkan ku­rang­nya perhatian dan pema­haman akan pentingnya taha­pan-tahapan lainnya dalam pemilu, terutama persoalan kampanye yang baik dan berkualitas.
Dalam pasal 77, UU No. 8 Tahun 2012 dinyatakan kampanye pemilu merupakan bagian dari pendidikan po­litik masyarakat dan dilak­sanakan secara ber­tang­gungjawab. Makna dari ber­tanggungjawab berarti kam­panye dilak­sana­kan sesuai dengan undang-undang atau ketentuan yang berlaku. Atau bisa juga ber­makna setiap janji dalam kampanye benar-benar harus dapat diper­tanggungjawabkan nantinya setelah memperoleh jabatan atau kekuasaan.
Sebagaimana pengertian dari kampanye yang meru­pakan tahapan penyampaian visi, misi dan program-prog­ram kontestan pemilu, pada masa kampanye-lah kon­testan pemilu berkomunikasi dengan masyarakat atau calon pemilih. Namun, apakah kampanye dengan berbagai janji yang disampaikan pada pemilu dan pemilihan kepala daerah kini sudah benar-benar dilakukan dengan jujur? Wa­lau­pun para kontestan pemilu sedang berlomba menduduki jabatan, sudah seharusnya tetap benar-benar tulus untuk membuat perbaikan di masa datang. Persoalan kejujuran adalah permasalahan integ­ritas dari para kontestan itu sendiri. Tak jarang kontestan Pemilu yang dulu telah dipilih oleh masyarakat akhirnya dihujat akibat janji tak berse­suaian dengan kenyataan setelah menjabat. Kenyataan ini, lama-kelamaan akan memperdalam jurang keti­dakpercayaan antara masya­rakat dan elit politik di negara kita.
Menurut Firmanzah da­lam buku Persaingan, Legi­timasi Kekuasaan, dan Mar­keting Politik: Pembelajaran Politik 2009 (2010), kepen­tingan kampanye politik para kontestan baik parpol atau­pun perorangan masih se­batas “yang penting terpilih, soal bagaimana caranya itu bela­kangan”. Kampanye politik yang dipahami de­mikian pada akhirnya tidak diikuti dengan konsistensi para politisi untuk menjaga kontinuitas.
Tahapan kampanye tanpa pemahaman yang baik dari kontestan ataupun ma­sya­rakat hanya akan terlihat seperti pesta umbul-umbul, baliho, spanduk, poster, stiker dengan berbagai slogan dan janji-janji kampanye. Semua atribut kampanye ini begitu banyak bertebaran di waktu masa pemilu dan pemilihan kepala daerah. Bahkan dalam bentuk kalender, souvenir dan bentuk lainnyamasuk sampai ke rumah-rumah warga. Be­lum lagi kampanye pemilu dan pemilihan kepala daerah yang memenuhi media tele­visi. Kontestan  pemilu atau calon-calon kepala daerah yang rata-rata kini memiliki uang tak tanggung-tanggung mem­bayar TV, lengkap dengan artis-artisnya. Media inter­netpun tak luput dijadikan media kampanye para kon­testan pemilu.
Tujuan dari penggunaan berbagai media­terse­but­ten­tunya agar kontestan pemilu atau pasangan calon kepala daerah dikenali dan mendapat simpati masyarakat yang akan memilih. Namun tidak jarang juga para kontestan pemilu melanggar aturan atau ketentuan kampanye. Pada saat masa kampanye sering­kali ditemukan atribut-atribut menempel dan tergantung di pohon-pohon pelindung, fasi­litas-fasilitas umum dan kadang-kadang yang lebih merisaukan masyarakat ten­tunya setelah kampanye atri­but itu tidak dibersihkan lagi.
Memperhatikan feno­mena kampanye dan mar­keting politik seperti gam­baran di atas, perlu rasanya perbaikan kualitas dan metode kam­panye. Perbaikan ini tentu akan melibatkan stakeholders pemilu dan pemilihan kepala daerah, seperti KPU, partai politik dan juga masyarakat.
KPU, KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota sebagai penyelenggara pemilu dan pemilihan kepala daerah dapat memanfaatkan ruang yang diberikan undang-undang untuk mengemas kampanye yang lebih dialogis dan juga terarah agar tujuan tahapan kampanye untuk penyampaian visi, misi dan program betul-betul bisa terlaksana serta bisa berjalan tertib.
Harapannya, jika me­mung­kinkan secara anggaran dan teknis, kampanye Pemilu legislatif ke depan dilak­sanakan oleh KPU seperti  debat presiden atau kepala daerah, dimana wakil-wakil partai peserta Pemilu bisa menyampaikan visi, misi dan program mereka dalam se­buah forum debat. Dengan begitu penjelasan pokok-pokok gagasan tentang pem­ba­ngu­nan dan arah ke­hi­dupan ber­bangsa dan ber­negara oleh wakil-wakil partai diharapkan betul-betul dipahami oleh masyarakat yang kemudian berpengaruh pada pilihan mereka na­ntinya.
Partai politik, calon legis­latif dan calon kepala daerah juga diharapkan memiliki itikad baik pada saat kam­panye Pemilu dengan me­nyampaikan hal-hal yang sungguh-sungguh akan mereka perjuangkan, bukan sekedar janji palsu dan klise. Pe­nyampaian visi, misi dan program partai politik atau kontestan dalam setiap Pe­milu hendaknya betul-betul bisa diukur dan terukur. Tanpa kejelasan platform atau visi, misi dan program ma­sing-masing partai atau kon­testan pemilu, masyarakat atau kelompok masyarakat sipil akan kesulitan mela­kukan evaluasi terhadap pemerintahan yang ada. D­a­lam kaitan inilah tang­gun­g­jawab partai politik, khu­susnya, memberikan pen­didikan politik yang baik kepada masyarakat.
Masyarakat sebagai pi­hak yang menjadi sasaran dari kampanye dan mar­keting politik juga dituntut untuk bersikap kritis. Ma­syarakat yang kritis tentu bisa mem­berikan penilaian yang ob­jektif terhadap visi, misi dan program kontestan pemilu.

SONDRI DT KAYO
(Ketua KPU Tanah Datar)

Komunikasi Politik

BAB I
Pendahuluan
 
Pers adalah lembaga sosial (social institution) atau lembaga kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari sistem pemerintahan di negara dimana ia beropreasi, bersama-sama dengan subsistem lainnya.
Ditinjau dari sistem, pers merupakan sistem terbuka yang probabilistik. Terbuka artinya bahwa pers tidak bebas dari pengaruh lingkungan; tetapi dilain pihak pers juga mempengaruhi lingkungan probabilistik berarti hasilnya tidak dapat diduga secara pasti. Situasi seperti itu berbeda dengan sistem tertutup yang deterministik. Dalam buku "Four Theories of the Press" dengan penulis; Fres S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm. bahwa Pers dapat dikategorikan menjadi;
1. authoritarian press (pers otoritarian)
2. libertarian press (pers libertarian)
3. soviet communist press atau pers komunis soviet
4. social responsibility press atau pers tanggung jawab sosial

kritikan terhadap empat teori diatas.
1. Lowenstein, dalam bukunya "Media, Messages, and Men"
mengatakan bahwa empat teori pers itu tidak fleksibel dan tidak dapat diaplikasikan pada semua sistem pers. Kemudian ia menyarankan "pendekatan dua deretan bertingkat" (two tiered approach) yang mengidentifikasikan tipe kepemimpinan dan filsafat.
2. William Hachten, dalam karyanya "The World News Prism" mengajukan "five concept typology" yg berpegan pada ideologi authoritarian dan komunis serta kombinasi libertarian dan tanggung jawab sosial ke dalam konsep barat, dan menambah dua teori baru: "revolutionary dan developmental" (Merril, 1991:16-17)

Pengertian Pers
- arti sempit: media massa cetak seperti surat kabar, majalah tabloid, dan sebagainya
- arti luas: media massa cetak elektronik, antara lain radio siaran dan televisi siaran, sebagai media yg menyiarkan karya jurnalistik.

Fungsi Pers
1. Fungsi Menyiarkan Informasi
2. Fungsi Mendidik
3. Fungsi Menghibur
4. Fungsi Mempengaruhi

Pers Pancasila
Sesungguhnya istilah Pers Pancasila sudah dikemukakan oleh M.Wonohito, seorang wartawan senior kenamaan, jauh sebelum dicanangkan secara resmi oleh Dewan Pers dalam Sidang Pleno XXV di Surakarta pada tanggal 7-8 Desember 1984.
Alasan Wonohito untuk menampilkan apa yang ia sebutkan "Pancasila Press Theory", dapat disimak dari paparannya berikut ini.
"Sesungguhnya pers tidak dapat diangkat dari dan tidak dapat ditinjau lepas daripada struktur masyaraktnya. Membayangkan seakan-akan pers lepas dari sosiological context salah besar. Sama kelirunya apabila kita pura-pura tidak melihat adanya sociological determination, suratan sosiologis yang berlaku terhadap tiap-tiap lembaga kemasyarakatan.
oleh karena itu struktu sosial politik bersifat menentukan bagi corak, sepak terjang serta tujuan yang hendak dicapai oleh Pers. Dan karena struktur sospol dilandasi masyarakat, perspun berlandaskan atas dan mencerminkan falsafah masyarakat".
Dalam Pembahasannya tiu Wonohito menyinggun pula empat teori pers dari buku terkenal "Four Theories of the Press" yang ditulis oleh Fred S Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm, keempat teori pers itu menurutnya bolehlah kita tambahkan satu sistem lagi, yaitu Pancasila Press Theory, sebab falsafah Pancasila melahirkan teori pers sendiri, yang tidak termasuk dalam empat teorinya Siber, Peterson dan Schramm itu.
intisari keputusan sidang pleno xxv dewan pers mengeani pers pancasila itu, adalah sbb;
Pers Indonesia adalah Pers Pancasila dalam arti pers yang orientasi, sikap dan tingkah lakunya berdasarkan pada nilan-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Pers Pembanguna adalah Pers Pancasila dalam arti mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 dalam pembangunan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk pembangunan pers itu sendiri.
Hakikat Pers Pancasila adalah Pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyaluran aspirasi rakyat dan kontrol sosial konstruktif. Melalui hakikat dan funsi pers pancasila mengembangkan suasana sain percaya menuju masyarakat terbuka yang demokratis dan bertanggung jawab.
 
Bab II
Komunikasi dan Politik

 
Komunikasi Politik dalam Pers Indonesia
Pers Indonesia memiliki latar belakang sejarah yang erat berhubungan dengan pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan nasional, dan dengan itu perjuangan untuk memperbaiki kehidupan rakyatnya. Meski posisi dan peranan pers mengalami pergeseran sesuai dengan perkembangan sejarah negara dan sistem politiknya, namun pers Indonesia memiliki karakter yang konstan, yakni komitmen sosial-politik yang kuat.
Media massa umumnya tunduk pada sistem pers yang berlaku di mana sistem itu hidup, sementara sistem pers itu sendiri tunduk pada sistem politik yang ada. Dengan kata lain, sistem pers merupakan subsistem dari sistem politik yang ada. Maka dalam setiap liputan pemberitaan dengan sendirinya akan memperhatikan keterikatan tersebut.
Indonesia saat ini resminya menganut sistem pers yang bebas dan bertanggungjawab. Konsep ini mengacu ke teori "pers tanggungjawab sosial." Asumsi utama teori ini adalah bahwa kebebasan mengandung di dalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan. Maka pers harus bertanggungjawab pada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern. Namun dalam prakteknya, pers harus bertanggungjawab pada pemerintah.
Ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pers yang kritis dan mencoba menjalankan kontrol sosial. Ada rambu-rambu yang tidak tertulis, yang tidak bisa dilanggar. Misalnya: sulit dibayangkan pers Indonesia secara lugas dan terbuka bisa memuat isu tuduhan korupsi/kolusi/monopoli terhadap Presiden atau keluarganya. Padahal di negara demokratis, pemberitaan kritis adalah biasa saja dan jabatan Presiden bukan jabatan suci yang tak bisa disentuh.
Namun kalau toh rambu-rambu itu bisa diterima, bahkan batas-batas rambu itu sendiri tidak pernah jelas, bisa mulur-mungkret tergantung selera penguasa. Di era regim Orde Baru ini, ketika suatu penerbitan dianggap pemberitaannya "bertentangan dengan pembangunan", menghadapi risiko dibreidel.
Pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang berkali-kali dilakukan regim Orde Baru, hakekatnya adalah sama dengan pembreidelan, karena itu dilakukan atas alasan isi pemberitaan. Padahal UU Pokok Pers tegas mengatakan tidak ada pembreidelan. SIUPP seharusnya hanya berkaitan dengan faktor ekonomis/usaha, bukan isi berita.
Di Indonesia, kalau kita bicara tentang "kebebasan pers," maka kita kenal sebutan "Pers Pancasila." Di sini akan terlihat, bagaimana Pancasila "diobral" dan dijadikan dalih untuk melegitimasi berbagai tindakan dan praktek pembatasan kebebasan pers.
Sidang Pleno XXV Dewan Pers (Desember 1984) merumuskan Pers Pancasila sebagai berikut: "Pers Indonesia adalah Pers Pancasila dalam arti pers yang orientasi, sikap dan tingkah lakunya berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945." Hakekat Pers Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif.
Kalau mengacu buku Sistem Pers Indonesia (Atmadi:1985), disebutkan, akar dari sistem kebebasan pers Indonesia adalah landasan idiil, ialah Pancasila, dengan landasan konstitusional, UUD 1945.
Kemudian disebutkan, pers adalah salah satu media pendukung keberhasilan pembangunan. Bentuk dan isi pers Indonesia perlu mencerminkan bentuk dan isi pembangunan. Kepentingan pers nasional perlu mencerminkan kepentingan pembangunan nasional. Inilah yang disebut "pers pembangunan," model yang juga banyak diterapkan di negara sedang berkembang lainnya.
Meski sepintas kedengarannya juga masih bagus, implikasinya adalah: karena pembangunan dianggap sudah merupakan program regim Orde Baru, maka pers harus mendukung pemerintah Orde Baru. Pers sangat tidak diharapkan memuat pemberitaan yang isinya bisa ditafsirkan tidak sejalan atau bertentangan dengan posisi pemerintah.
Lalu siapa yang berhak menafsirkan bahwa isi pemberitaan pers itu bertentangan atau tidak bertentangan dengan pembangunan? Dalam prakteknya, itu ditentukan oleh pemerintah sendiri. Dan karena pemerintah sangat dominan dalam berbagai aspek kehidupan sosial-politik, ini sangat membuka peluang bagi penyelewengan dan pembatasan kebebasan pers. Pemerintah (Deppen) bertindak sebagai jaksa, hakim dan sekaligus algojo, dalam membungkam pers yang dianggap "melanggar batas."
Manfaat Keberadaan Komunikasi Politik
mengenai apa arti dan manfaatnya komunikasi politik dalam tatanan kehidupan politik sehari-hari maka seharusnya masyarakat sudah menangkap dengan jelas keberadaan model-model komunikasi yang ditimbulkan dalam perpolitikan, peran komunikasi memegang peran penting dalam mengupayakan kepekaaan setiap kejadian politik yang berlangsung dewasa ini. Setelah kita memahami apakah komunikasi dan dan definisi politik maka kita secara tidak langsung akan memahami pola hubungan komunikasi yang terjadi didalamnya. Secara umum juga dijelaskan bagaimana komunikasi politik muncul sebagai suatu bidang studi yang mencoba untuk berdiri sendiri.
Dalam memahami mata kuliah ini diperkenalkan juga berbagai pendekatan teoritik maupun metodologis yang mampu menjelaskan komunikasi politik sebagai suatu suatu disiplin ilmu. Secara operasional komunikasi politik ini juga memberikan contoh-contoh konkrit dalam interaksi komunikasi maupun politik, baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasional. Oleh karena itu pembahasan juga akan menyentuh disiplin lain secara terbatas, seperti komunikasi internasional, hubungan internasional, maupun dalam lingkup international political communication. Sementara bidang-bidang lain yang relatif dianggap baru seperti ekonomi politik media, teknologi media dibahas secara terbatas.
Dalam substansi operasionalnya akan dibahas mengenai batasan komunikasi politik, baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Kemudian akan dibahas juga secara mendalam komunikasi persuasive dalam komunikasi politik seperti bahasa politik, retorik politik, iklan politik propaganda dan debat politik, sampai kepada sosialisasi politik, kampanye politik, pendapat umum dan lainnya kesemuanya dikaitkan dengan peran komunikasi sebagai komponen yang dominan.
Ketika kita berbicara masalah komunikasi politik maka kita mau tidak mau akan berbicara masalah komunikasi dan politik, dan akan berbicara masalah komponen dan segala sesuatunya yang terdapat didalamnya. Mata rantai disiplin ilmu kemudian akan nampak bahwa komunikasi politik juga berhubungan dengan masalah sosial, budaya, agama dan lain sebagainya. Sehingga jelas bahwa disini komunikasi politik membelikan peluang untuk para praktisi mempelajarinya guna memperkaya khasanah keilmuan dan mempertajam daya analisis.